Petugas Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperlihatkan peta sebaran titik panas. (Foto: Antara)

KBR, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat, jumlah titik panas terbanyak ada di Pulau Kalimantan. Data satelit, menurut Prakirawan BMKG Pusat Tommy Ilham Reza, menunjukkan jumlah titik panas terbanyak terdapat di Kalimantan Barat. Meski memang, jumlah titik panas ini menurun dibanding Jumat (19/8/2016) kemarin.

Sedangkan wilayah Sumatera hanya terpantau dua titik panas yakni di Aceh. Sementara di Riau dan Palembang, tercatat nihil titik panas.

"Di Sumatera sendiri, data terakhir jam 1 siang, totalnya ada 2 titik panas. Tetapi yang tingkat kepercayaannya di atas 80% itu nol atau nihil. Ini ada di sekitaran Aceh. Untuk wilayah Kalimantan, ada totalnya 30 titik panas. Tetapi yang tingkat kepercayaannya di atas 80% hanya 9 titik dan seluruhnya di wilayah Kalimantan Barat," jelas  Prakirawan BMKG Pusat Tommy Ilham Reza kepada KBR, Sabtu (20/8/2016).

Baca juga:

Sedangkan untuk prediksi cuaca, Tommy Ilham Reza memperkirakan dalam beberapa hari ke depan, peluang hujan akan lebih besar terjadi di wilayah Sumatera. Sementara peluang terjadinya hujan di Kalimantan sangat kecil dan, cenderung berawan.

Dia pun menambahkan, untuk pantauan kepekatan udara, BMKG belum mencatat adanya asap di Sumatera dan Kalimantan. "Untuk asap, berdasarkan pantauan satelit, belum terlihat oleh satelit," katanya.

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan, dalam sepekan terakhir titik panas di Kalimantan Barat meningkat. Satelit Modis dari NASA mendeteksi 158 titik panas di Kalimantan Barat pada Jumat (19/8/2016) pagi. Sebelumnya pada Kamis (18/8/2016), jumlah titik panas di provinsi ini sebanyak 106 titik.

Baca juga: Titik Panas di Kalimantan Barat


Editor: Nurika Manan

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!