Aktivitas Tongkang dan Tanker , Tangkapan Nelayan Cilacap Turun 25 Persen

Banyak kapal bermuatan buang jangkar atau berhenti di wilayah perairan dangkal yang merupakan daerah tangkapan ribuan nelayan berperahu di bawah 5 groos ton (GT).

Jumat, 19 Agus 2016 11:46 WIB

Ilustrasi. Kapal tongkang pengangkut batubara. Foto: Antara



KBR, Cilacap– Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) menyebut aktivitas tongkang batubara, kapal tunda (tugboat) dan tanker minyak di perairan Cilacap menganggu wilayah tangkap tradisional nelayan perahu kecil.  Menurut Ketua HNSI Cilacap, Sarjono aktivitas ini menyebabkan hasil tangkapan nelayan menurun hingga 25 persen.

Sarojono mengungkap banyak kapal bermuatan buang jangkar atau berhenti di wilayah perairan dangkal. Padahal, perairan di bawah 5 mil laut merupakan daerah tangkapan ribuan nelayan berperahu di bawah 5 groos ton (GT).

Kata dia, aktivitas kapal besar tersebut kerap membuat jaring nelayan tersangkut di baling-baling dan badan kapal. Hal ini seringkali menyebabkan konflik antara nelayan dengan awak kapal batubara atau minyak.

“Adanya PLTU-PLTU yang menjamur, kami juga HNSI juga sempat kewalahan. Karena kapal yang dibawah 5 groos ton (GT), kapal motor, jukung, fiber, itu wilayah operasional tangkapnya kan berada di sekitar 4 mil dari bibir pantai. Namun dengan adanya aktivitas tongkang, tugboat dan tanker itu kan otomatis menganggu atau sudah mengurangi wilayah kerja nelayan kecil. Itu jumlahnya nelayan kecilnya ribuan, bukan ratusan,” Ujar sarjono, Jumat (19/8/2016).

Lebih lanjut Sarjono mengatakan penurunan hasil tangkapan nelayan juga disebabkan pencemaran minyak atau batubara ke laut.

“Seringkali, batubara yang berada di dasar laut terbawa jaring nelayan.”

Pencemaran ini kata dia, menyebabkan ikan menjauh dari bibir pantai dengan jarak lebih dari 5 mil laut.

“Padahal, dari 14 ribu nelayan yang terdaftar di Cilacap, kata Sarjono, sekira 80 persen merupakan nelayan dengan perahu kecil. Zona di atas 5 mil laut berada di luar jarak kemampuan perahu.”

Sarjono meminta pemerintah dan otoritas perairan setempat untuk membatasi jumlah tongkang, tugboat dan tanker yang diperbolehkan beraktivitas di satu waktu. Dengan demikian, nelayan tidak terlalu terganggu. Sarjono juga meminta agar pemerintah mulai memperhatikan efek pencemaran yang diakibatkan tumpahnya batubara dan minyak pada proses bongkar muat batubara dan minyak di pantai.

Editor: Malika

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Permintaan atas produk laut Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor sangat besar tapi sayangnya belum dapat dipenuhi seluruhnya. Platform GROWPAL diharapkan dapat memberi jalan keluar.