Ini Dugaan Sementara Sebab Kematian Gajah di Aceh Timur

Saat ditemukan, jasad gajah yang diperkirakan berusia belasan tahun itu masih utuh dengan gading sepanjang 10 centimeter

Senin, 16 Jul 2018 13:49 WIB

Warga melihat bangkai gajah Sumatra yang mati di kawasan perkebunan kelapa sawit PT Bumi Flora di Desa Jambo Reuhat, Banda Alam, Aceh Timur, Aceh, Jumat (13/7). (Foto: ANTARA/ Syifa Y)

KBR, Aceh Timur - Tim ahli dan dokter Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh menduga kematian gajah di Aceh Timur lantaran keracunan (toxicosis). Kamis (12/7/2018) malam, seorang warga menemukan bangkai gajah itu di area afdeling VI kawasan PT Bumi Flora di Desa Jambo Rehat, Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur.

Kepala BKSDA Aceh, Sapto Aji Prabowo mengatakan, hasil evaluasi tim dokter dan ahli hewan menunjukkan bahwa kematian satwa liar itu sarat kejanggalan. Selain pendarahan pada mulut dan anus, tim juga menemukan serbuk yang mengandung zat beracun pada kain pembungkus gajah.

"Jadi, dari autopsi dan nekropsi tim dokter kami, diagnosis sementara mati karena keracunan. Itu dibuktikan dengan limpa, jantung dan paru-paru yang menghitam, kemudian di usus juga ditemukan pendarahan dan buntalan kain yang isinya serbuk," jelas Sapto Aji Prabowo kepada KBR, Minggu (15/7/2018).

Ia menambahkan, kasus matinya gajah liar itu tengah diusut penyidik Polres Aceh Timur. Sementara sampel barang bukti dari Tempat Kejadian Perkara (TKP) sedang diuji di Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Medan, Sumatra Utara. Adapun sampel itu meliputi hati, usus, limpa, paru, serta kotoran gajah. Termasuk, bahan yang diduga untuk meracuni gajah, seperti buah dan kulit biji nangka, kain yang berbekas serbuk berwarna ungu.

Baca juga:

Autopsi gajah itu dilakukan Jumat (13/7/2018) pekan lalu oleh tim dokter dan ahli hewan BKSDA Aceh. Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Lhokseumawe, Dedi Irvansyah menerangkan, langkah tersebut dilakukan guna mengetahui penyebab utama kematian satwa yang dilindungi tersebut.

"Autopsi di Tempat Kejadian Perkara (TKP) bersama tim nafis Polres soal penyebab kematian. Kami mencari barang bukti yang dibutuhkan penyidik, tim dokter dari BKSDA melakukan autopsi dan neokropsi terhadap bangkai gajah," kata Dedi menjawab KBR, Jumat (13/7/2018).

Ia pun menambahkan, sementara hasil uji laboratorium forensik terhadap sejumlah barang bukti nantinya digunakan melengkapi informasi. Sehingga, bisa mengungkap apakah kematian gajah terjadi secara wajar atau sebaliknya. Mengingat, kasus kematian gajah di kawasan PT Bumi Flora sudah 3 kali terjadi dalam beberapa tahun terakhir.


Sejumlah petugas BKSDA Aceh bersama tim dokter hewan membedah gajah sumatra yang mati di kawasan perkebunan kelapa sawit PT Bumi Flora di Desa Jambo Reuhat, Banda Alam, Aceh Timur, Aceh, Jumat (13/7). (Foto: ANTARA/ Syifa Y)

Sapto mengatakan, kasus kematian hewan langka di areal perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan sawit itu didapatkan dari laporan warga. BKSDA Aceh dan polisi masih berupaya membongkar penyebab kematian gajah jantan tersebut.

"Ada laporan dari Polsek Banda Alam bahwa ditemukan gajah mati di perusahaan areal Hak Guna Usaha (HGU) Bumi Flora Afdeling VI Aceh Timur. Kondisi gajah belum busuk, diperkirakan mati belum seharian, itu cuma data yang kami dapat," kata Sapto kepada KBR, Jumat (13/7/2018).

Kata dia, saat ditemukan, jasad gajah yang diperkirakan berusia belasan tahun itu masih utuh dengan gading sepanjang 10 centimeter.

Baca juga:




Editor: Nurika Manan
Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

Saat ini ada banyak cara dan sarana untuk membantu orang lain. Lewat NusantaRun salah satunya.