Polisi: Penembakan Pesawat Susi Air di Papua Diduga untuk Ganggu Pilkada Ulang

Kapolda Boy Rafli mengatakan polisi sulit mengidentifikasi para pelaku karena pergerakan mereka selalu berbaur dengan masyarakat.

Selasa, 20 Jun 2017 14:14 WIB

Kapolda Papua Boy Rafli Amar. (Foto: tribratanews.polri.go.id/Publik Domain)

KBR, Jakarta - Kepolisian Daerah Papua memperkirakan pelaku penembakan pesawat milik maskapai Susi Air berjumlah antara tiga hingga empat orang.

Pesawat jenis Pilatus PK-BVC itu ditembak orang tak dikenal di Bandara Kota Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, pada Jumat (16/6/2017) lalu.

Kapolda Papua Boy Rafli Amar mengatakan polisi belum bisa memastikan kelompok mana yang terlibat dalam penembakan itu.

"Pelaku berjumlah sekitar tiga hingga empat orang. Kekuatan mereka tidak besar, tapi mereka tersebar di beberapa titik, beberapa tempat. Mereka memang dari beda kelompok. Ini memang khas dari ancaman di wilayah pegunungan," kata Boy Rafli di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (20/6/2017).

Polda Papua saat ini masih menyelidiki insiden penembakan pesawat yang menyebabkan pesawat itu terpaksa mendarat darurat di Bandara Kota Mulia, setelah salah satu roda dan bagian badan pesawat terkena tembakan.

Kapolda Boy Rafli mengatakan polisi sulit mengidentifikasi para pelaku karena pergerakan mereka selalu berbaur dengan masyarakat. Tindakan membaur itu, kata Boy, kerap dilakukan kelompok bersenjata untuk menghindari pengejaran aparat. Disamping itu, polisi juga belum menemukan barang bukti berupa proyektik yang ditembakkan ke pesawat Susi Air.

"Kita belum temukan proyektil, karena baik pada roda dan velg itu tembus peluru. Jadi kemungkinan proyektilnya tidak ada yang nyangkut dan hilang," kata Boy.

Boy menduga, peristiwa penembakan itu terkait proses pemilihan kepala daerah (pilkada) ulang yang diadakan di Kabupaten Puncak Jaya, karena pesawat yang diincar itu merupakan pesawat yang beranjak dari salah satu distrik dengan membawa aparat keamanan dan logistik pilkada.

Boy menduga kuat penembakan itu terkait pilkada ulang di Kabupaten Puncak Jaya yang digelar sehari sebelumnya, Kamis (15/6/2017).

"Sementara tidak ada motif lain. Tapi patut diduga hal ini dilakukan untuk mengganggu proses pemungutan suara ulang," katanya.

Ia menambahkan peristiwa penembakan pesawat tidak hanya sekali ini terjadi, bahkan hal itu pernah terjadi dari tengah-tengah pemukiman warga.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

Moratorium Reklamasi, Menteri Siti : Pulau C dan D Kurang Satu Syarat, Pulau G Dua Syarat

  • Adik Bos First Travel Ikut Jadi Tersangka
  • Penembakan Deiyai, Tujuh Anggota Brimob dan Kapolsek Akan Jalani Sidang Etik Pekan Depan
  • Tuntut Pembatalan Perppu Ormas, Ratusan Orang Demo DPRD Sumut

Dalam Perbincangan Ruang Publik KBR kali ini, kita akan punya 5 topik utama, penasaran? ikuti perbincangan Ruang Publik KBR