Polisi Tingkatkan Penjagaan Sejumlah Lokasi di Solo

Polresta Solo memperketat penjagaan di wilayah tersebut pasca teror peledakan bom di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur. Sementara Pemkot Solo menyisir warga pendatang dan aktivitas mencurigakan.

Senin, 14 Mei 2018 11:28 WIB

Ilustrasi: Polisi tampak berjaga di sebuah gereja di Solo. (KBR/Yudha S)

KBR, Solo - Kepolisian Resor Kota Solo memperketat penjagaan di wilayah tersebut pasca aksi teror peledakan bom di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5/2018).

Juru bicara Polresta Solo, Yuliana mengatakan, pengamanan dilakukan menyeluruh di pelbagai lokasi seperti gereja, objek vital dan pusat keramaian lainnya. Termasuk, di Gereja Bethel Injil Sepenuh atau GBIS Kepunton Solo. Sebab menurutnya lokasi ini pernah menjadi sasaran teror bom bunuh diri pada 2011 silam.

"Ada beberapa gereja di Solo yang tergolong besar, di wilayah saya ada Gereja El Shadday dan Gereja Purbowardayan. Gereja Kepunton yang pernah menjadi sasaran aksi teror, itu juga kami lakukan pengamanan ketat," jelas Yuliana di Solo, Senin (14/5/2018).

Sebelum teror di Surabaya pun, menurut Yuliana, jajarannya sudah melakukan pengamanan rutin. Namun dengan kejadian bom di tiga gereja Minggu kemarin, penjagaan ditingkatkan dengan menambah personil.

"Kami gandeng pengamanan internal gereja, TNI, ormas maupun satgas parpol, yang ikut pengamanan. Pasca kejadian di Jawa timur itu, kami tambah personil pengamanan di Gereja-gereja untuk mengantisipasi gangguan keamanan di Solo.”

Dari pantauan di lokasi, pengamanan wilayah termasuk di beberapa gereja dilakukan sejak Minggu (13/5/2018) siang hingga saat ini. Polisi dan TNI hingga Satgas Ormas dan organisasi politik pun turut menjaga gereja.

Baca juga:

Tim Gegana Brimob juga sempat menyisir ke dalam gereja untuk mengantisipasi aksi teror menggunakan peledak serupa di Surabaya. Polisi juga menambah intensitas patroli wilayah dengan kendaraan dan personil bersenjata.

Data jumlah gereja di Solo sekitar 160an yang tersebar di pelbagai lokasi, 16 di antaranya menjadi prioritas. Hal ini karena jumlah jemaat belasan gereja itu lebih dari 1.000 orang dan lokasi tersebut pernah menjadi sasaran aksi teror.

Minggu (13/5/2018) pagi, tiga gereja dan Rusunawa di Surabaya jadi sasaran teror bom. Akibat aksi tersebut belasan orang tewas dan lebih dari 40 orang luka-luka. Polri menyatakan pelaku teror di Surabaya diduga kuat satu keluarga. Menurut polisi, pelaku teror termasuk kelompok Jaringan Ansharut Daulah JAD.

Sisir Pendatang

Selain peningkatan penjagaan oleh aparat keamanan, Pemerintah Kota Solo juga menertibkan data adminsitrasi kependudukan pasca aksi teror di Surabaya. Walikota Solo, Hadi Rudyatmo menyatakan telah memerintahkan jajarannya untuk menyisir warga pendatang di Solo dan sejumlah aktivitas yang dianggap mencurigakan.

Rudy meminta Warga Solo untuk tenang dan berkegiatan seperti biasa seraya tetap waspada. Tidak perlu, kata dia, terpancing provokasi.

"Kami sudah menginstruksikan jajaran hingga ke bawah, camat-lurah, RW hingga RT untuk mendata warga pendatang. Aturan harus dijalankan, 1 kali 24 jam tamu bermalam harus lapor RT, RW dan jajaran pemkot Solo. Kalau tidak lapor, ya kami sudah berkoordinasi dengan TNI Polri untuk melakukan tugasnya," kata Rudi di Solo.

Rudy mengungkapkan kegeramannya terhadap para pelaku teror di Surabaya. Ia pun mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak terpancing provokasi. Sebab menurutnya, tujuan kelompok teroris adalah membuat keresahan di masyarakat.

Baca juga:




Editor: Nurika Manan
Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

Saat ini ada banyak cara dan sarana untuk membantu orang lain. Lewat NusantaRun salah satunya.