Komunitas Perempuan Pekerja Rumahan Demo Disnaker Solo Tuntut Kesejahteraan

"Karena keterbatasan mesin dan daya tampung pabrik, kami mengalihkan pekerjaan itu di rumah. Ada target produksi per bulan.

Selasa, 02 Mei 2017 11:44 WIB

Komunitas Perempuan Pekerja Rumahan demo tuntut kesejahteraan. (Foto: KBR/Yudha S.)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Solo- Sebanyak  20an perempuan pekerja rumahan menggelar aksi demonstrasi di Solo, Jawa Tengah. Mereka berjalan dari Kantor Dinas Tenaga Kerja pemkot Solo hingga ke Balaikota   yang berjarak sekitar 3 kilometer sambil membentangkan spanduk berisi tuntutan aksi.

Juru bicara Komunitas Perempuan Pekerja Rumahan, Endang, mengatakan pekerja rumahan ini bukan asisten rumah tangga. Kata dia,  mereka  perempuan yang mengambil pekerjaaan dari pabrik untuk dilakukan di rumah.

Menurut Endang, selama ini perempuan pekerja rumahan ini belum mendapat kesejahteraan yang layak.

“Kami bukan asisten rumah tangga. Kami Komunitas Bersama Perempuan Pekerja Rumahan. Pemerintah dan masyarakat mungkin tahunya pekerja rumahan itu semacam pembantu rumah tangga, bukan itu. Kami secara rutin dipekerjakan pabrik atau perusahaan," ujar Juru bicara Komunitas Perempuan Pekerja Rumahan, Endang, Selasa (02/05). "

Endang melanjutkan, "karena keterbatasan mesin dan daya tampung pabrik, kami mengalihkan pekerjaan itu di rumah. Ada target produksi per bulan. Jam kerja kami tidak seperti di pabrik, bahkan lebih banyak karena digarap di rumah. Masyarakat atau pemerintah menganggap pekerjaan kami sambilan atau sampingan, tidak. Upah kami per bulan menjadi tumpuan kebutuhan keluarga. Kami menuntut adanya jaminan sosial dan upah yang layak sesuai UMK.”

Komunitas para perempuan pekerja rumahan ini antara lain penjahit, pembuat kerajinan tangan atau aksesoris, dan sebagainya. Secara rutin komunitas perempuan pekerja rumahan ini mengambil pekerjaan dari pabrik untuk dilakukan di rumah. Setiap bulan para pekerja ini ditarget menyelesaikan pesanan dari pabrik.

Editor: Rony Sitanggang 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.