Ratusan Hektare Tanaman Padi Siap Panen di Jombang Kebanjiran

"Pengaruh ke padinya nanti bisa hitam tembus ke beras kalau dijual nanti ya laku tapi harganya lebih murah."

Rabu, 05 Apr 2017 16:06 WIB

Padi siap panen di kawasan Kecamatan Tembelang Jombang terendam banjir. (Foto: KBR/Muji L.)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Jombang- Ratusan hektare  padi siap panen  di   Jombang, Jawa timur kebanjiran. Di antaranya di Kecamatan Peterongan, Sumobito, Kesamben, Tembelang dan Kecamatan Megaluh. Ketinggian air yang merendam tanaman padi itu mencapai lutut orang dewasa atau sekitar 70 centimeter lebih hingga menyebabkan batang dan bulir padi tenggelam.

Petani asal Desa Tugusumberejo, Sobirin  mengatakan, banjir sudah berlangsung  dua hari sejak wilayah Kabupaten Jombang diguyur hujan deras dalam satu minggu terakhir. Puncaknya, dua hari lalu intensitas hujan yang cukup tinggi membuat sejumlah sungai dan saluran irigasi tak mampu menampung volume air hingga meluap menggenangi areal persawahan di sekitarnya.

Dia menjelaskan, akibat rendaman air kualitas padi dipastikan menurun. Sebab, selain bulir berubah warna menjadi kehitaman, Banyak padi yang dipastikan membusuk sehingga   mengurangi hasil panen.

"Kena banjir itu dampaknya kalau padi sudah kena air jualnya jadi murah kalau petani dianggap rugi separuh harga lah, ada yang masih bagus. Kemarin itu terendam semua soalnya padi kan roboh mungkin ketinggian air sampai diatas lutut sampai satu meter. Kalau pengaruh ke padinya nanti bisa hitam tembus ke beras kalau dijual nanti ya laku tapi harganya lebih murah," kata Sobirin, Rabu (05/04/17).

Para petani berharap, Pemerintah Kabupaten Jombang segera memperbaiki saluran irigasi dan sungai-sungai yang   mengalami pendangkalan. Sebab, bencana banjir ini tidak hanya sekali saja terjadi. Namun, sudah beberapa kali selama musim hujan tahun ini akibat luapan sungai.

Sementara, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, Hadi Purwantoro saat dikonfirmasi melalui ponselnya mengakui adanya areal persawahan yang kebanjiran. Namun, sejauh ini  masih melakukan pendataan terkait detail luasan lahan dan total kerugian yang dialami para petani.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.