Tolak Semen, Aktivis Malang dan Banyumas Gelar Aksi Solidaritas untuk Kendeng

"Ditampung dalam satu rekening. Menggalang donasi disalurkan untuk petani kendeng,"

Kamis, 23 Mar 2017 15:06 WIB

Patmi, saat melakukan aksi menyemen kaki untuk menolak pabrik dan tambang semen di Kendeng, Jawa Tengah. (Foto: KBR/Rio Tuasikal)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR- Mahasiswa, aktivis lingkungan dan berbagai elemen yang tergabung dalam Aliansi Malang Peduli Kendeng berunjukrasa dan menggalang donasi. Sekitar seratusan orang mengumpulkan dana untuk perjuangan petani kendeng menolak penambangan batu kapur untuk pabrik semen.

Dana yang terkumpul akan disalurkan untuk membantu perjuangan petani kendeng mempertahankan sawah dan sumber mata air. Koordinator aksi, Mohamad Iqbal  menuntut Presiden Joko Widodo dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menghentikan operasional pabrik semen.

"Ditampung dalam satu rekening. Menggalang donasi disalurkan untuk petani kendeng," ujar Koordinator aksi, Mohamad Iqbal, Kamis (23/03).

Mereka juga menggelar doa bersama untuk mendiang Patmi, petani Kendeng yang meninggal setelah aksi di Jakarta. Doa juga ditujukan bagi Salim Kancil petani Lumajang yang terbunuh setelah menolak penambangan pasir besi.  

Aksi solidaritas  juga dilakukan sejumlah komunitas pelestarian alam dan pemerhati sosial di Purwokerto, Jawa Tengah. Mereka bakal menggelar Aksi solidaritas petani kendeng, Kamis malam nanti (23/3). Selain itu, gabungan komunitas tersebut juga menyuarakan isu lokal, yakni Proyek Geothermal Lereng Selatan Slamet.
 
Juru Bicara Komunitas Banyumas Peduli Kendeng, Andi Sujada mengatakan aksi yang dilakukan oleh berbagai komunitas di Banyumas tersebut adalah bentuk solidaritas masyarakat Banyumas yang juga sama-sama menghadapi isu perusakan lingkungan. Andi menilai, pemerintah   berpihak pada kepentingan modal atau investasi bukan pada kepentingan masyarakat dan pelestarian alam.
 
Dia menyoroti Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) yang menurut dia mudah diperoleh. Selain itu, dalam penyusunan Amdal, masyarakat sekitar jarang dilibatkan. Hal itu, kata dia, terjadi bukan hanya di Kendeng saja. Di tempat lain, suara masyarakat juga tak dihiraukan.

Andi menjelaskan, aksi solidaritas untuk petani kendeng akan diisi dengan mimbar budaya dan doa bersama. Sejauh ini, sudah ada 10 komunitas yang mengkonfirmasi kehadirannya dalam aksi yang akan dimulai pukul 19.00 WIB di alun-alun Purwokerto.
 
“Kita, kumpul, melakukan aksi untuk doa bersama juga untuk Bu Patmi, sebagai korban. Jadi, begini, karena yang terjadi di Kendeng sana merupakan kasus alam, lingkungan, untuk tingkat lokal kita juga mengangkat isu terkait lingkungan. Kalau untuk proyek geothermal itu sendiri, akan diangkat sebagai isu aksi nanti. Kadang-kadang, pemerintah itu juga tidak jelas. Baik Amdal maupun peraturannya,” kata Andi Sudaja, Kamis (23/3/2017).
 
Sementara, Pegiat Lereng Selatan Slamet Yudi Setyadi mengatakan dampak pembangunan jalan pada proyek geothermal Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Kaki Gunung Slamet wilayah Cilongok, Banyumas sementara ini masih berupa air keruh.
 
Dilaporkan sebanyak 12 Desa di Kecamatan Cilongok dan sekitarnya mengalami masalah air, terutama untuk peternakan dan perikanan. Dampak ini akan sangat terasa saat hujan deras turun di wilayah tersebut. Material berupa tanah dan lumpur hanyut ke hilir sungai dan menganggu suplai air warga.

Menurut Yudi, banyak masyarakat yang tak tahu dampak pembangunan jalan tersebut. Itu artinya, menurut Yudi, keterlibatan masyarakat dalam penyusunan Amdal proyek tersebut sangat minim.
 

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

Kuasa Hukum Tak Bisa Janjikan Setnov Hadir di Sidang Tipikor Besok

  • Kakorlantas: Tim Pengkaji Pemindahan Ibu Kota Negara Masih Bekerja
  • Disnaker Sulut: Perusahaan Jangan Lupa Bayar THR
  • Lakukan Percobaan Penyuapan, Ketua DPRD Halteng Ditahan