Perubahan Rute Angkot Bogor Tetap Berlaku Pertengahan April

Saat ini di beberapa trayek baru memang masih mendapatkan penolakan. Penolakan datang dari sejumlah ojek pangkalan yang takut lahan pencahariannya hilang.

Jumat, 31 Mar 2017 19:24 WIB

Kepadatan arus lalu lintas di Jl Raya Paledang, Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (28/3/2017). (Foto: ANTARA)


KBR, Bogor - Pemerintah Kota Bogor tetap akan memberlakukan program rerouting atau perubahan rute angkutan kota (angkot) mulai pertengahan April nanti. Rerouting tetap diberlakukan meski masih menuai penolakan.

Kepala Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (DLLAJ) Kota Bogor Rakhmawati mengatakan perubahan rute angkot tetap berjalan karena sosialisasi dan peresmian sudah dilakukan sejak bulan lalu.

Rakhmawati mengatakan saat ini di beberapa trayek baru memang masih mendapatkan penolakan. Penolakan datang dari sejumlah ojek pangkalan yang takut lahan pencahariannya hilang. Namun, penolakan itu tidak akan menjadi penghalang terhadap proses rerouting angkot.

"Kita tetap akan lakukan pendekatan kalau soal penolakan itu. Setelah lauching beberapa pekan lalu target kita satu bulan. Berarti pertengahan April nanti sudah bisa dilihat," kata Rakhmawati kepada KBR, Jumat (31/3/2017).

Baca juga:


Rakhmawatimengatakan saat ini sejumlah angkutan umum sudah mulai dipasangi stiker trayek baru. Belum semua angkutan dilakukan pemasangan stiker trayek baru, karena dilakukan secara bertahap.

"Jadi kalau pemasangan stiker memang belum dilakukan semua. Karena memang kan sambil berjalan. Dan sekarang juga baru angkot yang tidak diubah rutenya saja yang sudah pakai nomor baru," jelasnya.

Program rerouting angkot dilakukan Pemerintah Kota Bogor untuk mengurangi jumlah angkot yang bertumpu di pusat kota.

Saat ini ada 3.412 angkot yang beroperasi di Kota Bogor, dengan 17 trayek yang melintasi pusat kota. Setelah direrouting nanti, hanya ada lima trayek saja yang melintas di pusat kota.

"Sisanya kita sebar ke pinggir kota. Kan ada 68 kelurahan, semuanya akan dilalui angkot. Jadi menambah trayek tetapi tidak menambah jumlah angkkot," ucap Rakhmawati.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.