Pembangunan Jembatan Trans Kalimantan, Ancam Bekantan Balikpapan

"Setiap bulan nya kita kehilangan hutan sekitar 10 hingga 20 hektare hutan tempat habitat bekantan dengan cara kebakaran dan pembukaan lahan."

Kamis, 30 Mar 2017 11:41 WIB

Ilustrasi: Bekantan (Nasalis larvatus). (Foto: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Balikpapan– Peraturan tentang  Perubahan Tata Ruang dinilai sebagai penyebab berkurangnya populasi  Bekantan (Nasalis larvatus)Peneliti asal Ceko Republik Ceko Stanislav Lhota dan Thomas Kobe mengungkapkan, salah satu penyebab punahnya populasi Bekantan (Nasalis larvatus) di kawasan Teluk Balikpapan karena semakin habisnya makan mereka.

Menurut Stanilslav dalam kurun 10 tahun terakhir populasi bekantan terus menurun jumlahnya. Saat ini hanya tersisa sekitar 1.400 ekor di Teluk Balikpapan, yakni hanya sekitar 400 ekor di wilayah Balikpapan  dan sekitar 1000 ekor di wilayah Kabupaten  Penajam Paser Utara. Stanislav Lhota bersama rekan-rekannya dari Repulik Ceko telah melakukan  penelitian bekantan di Indonesia sejak 2005 lalu.  

Kata dia, perubahan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota (RTRW) Kota Balikpapan 2012-2032   menyebabkan hutan tempat mereka mencari makan semakin terbatas. Karena memberikan akses untuk aktifitas ekonomi khususnya di Kawasan Industri Kariangau (KIK).

Selain itu pembangunan jembatan trans Kalimantan atau Pulau Balang juga ikut memicu habisnya hutan bakau yang ada di Teluk Balikpapan. Begitupun di Kabupaten Penajam Paser Utara dengan semakin terbukanya Kawasan Industri Buluminung (KIB).

Stanislav Lhota membeberkan, setiap bulannya hutan bakau di Teluk Balikpapan berkurang hingga sekitar 10 hektare akibat aktifitas pembangunan dan pembukaan lahan maupun kebakaran yang terjadi di Teluk Balikpapan.

“Sekarang ini kerusakan teluk Balikpapan ini semakin parah, kita lihat kerusakan yang paling parah. Ya setiap bulan nya kita kehilangan hutan sekitar 10 hingga 20 hektare hutan tempat habitat bekantan dengan cara kebakaran dan pembukaan lahan. Baru dengan perubahan RTRW Kota Balikpapan mulainya kehancuran habitat bekantan,” kata Stanilov Lota, Rabu (30/03)

Dia pun mengingatkan Pemerintah dan DPRD kota Balikpapan agar segera merevisi RTRW. Jangan sampai terjadi sama seperti di Pulau Kaget Kalimantan Selatan Sungai Barito, habitat bekantan kini hanya sekitar 40-an saja, dari sebelumnya ribuan.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Periksa Saksi Meringankan Setnov Pekan Depan

  • Polda Metro Rilis 2 Sketsa Terduga Penyerang Novel
  • Polda Papua Akui Ada Perintah Tembak di Tempat di Tembagapura
  • Pemprov Akan Pelajari Investigasi Ombudsman

Program diharapkan dapat mendukung ekonomi masyarakat dengan memanfaatkan lahan di daerah masing-masing