Tak Ada Dana Pemeliharaan, Menara BTS di Perbatasan Nunukan Mulai Rusak

Pada 2016 lalu, Kementerian Kominfo membangun BTS di 36 titik di wilayah perbatasan.

Rabu, 01 Feb 2017 10:52 WIB

Ilustrasi menara BTS layanan telepon selular. (Foto: web.kominfo.go.id)


KBR, Nunukan – Puluhan desa di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara mulai bisa menikmati jaringan telepon seluler. Layanan seluler mulai dirasakan setelah ada pembangunan tower (menara) Base Transceiver Station (BTS) di wilayah perbatasan.

Menara BTS merupakan infrastruktur layanan telepon selular yang berfungsi memancarkan dan menerima sinyal telekomunikasi dari telepon selular ke perusahaan operator.

Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara Petrus Kanisius mengatakan pada 2016 lalu, Kementerian Kominfo membangun BTS di 36 titik di wilayah perbatasan. Petrus berharap pada tahun ini sembilan desa lain yang belum terjangkau layanan komunikasi akan mendapat jatah pembangunan BTS.

"Sekarang sudah ada 36 tower BTS, tersebar di kecamatan se-Kabupaten Nunukan. Satu BTS itu sampai 15 kilometer radiusnya. Dan itu program pusat yang sudah ditetapkan titik titiknya," kata Petrus Kanisius, Selasa (1/2/2017).

Meski telah ada pembangunan BTS di wilayah perbatasan, namun infrastruktur itu belum dilengkapi dengan anggaran pemeliharaan. Tidak adanya anggaran pemeliharaan membuat sebagian BTS yang telah dibangun mulai rusak dan tidak bisa difungsikan kembali.

"Yang paling berat itu perawatan, maintenance-nya. Itu yang kalau sudah berumur dia punya panel-panel itu siapa yang mau datang kesana? Sangat sangat kita sayangkan," tambah Petrus Kanisius.

Selain 36 BTS, 7 desa di wilayah perbatasan juga menerima bantuan fasilitas Desa Broadband, yaitu program jaringan internet di daerah terluar, terdepan dan tertinggal dari Kementerian Kominfo. Bantuan fasilitas jaringan internet itu menggunakan operator Telkomsel. Namun, tidak dana anggaran pemeliharaan membuat desa kesulitan mengoperasikan peralatan internet gratis bagi warga desa di wilayah perbatasan tersebut.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Wiranto Batalkan Wacana Pj Gubernur dari Polisi

  • PPATK: Politik Uang Rawan sejak Kampanye hingga Pengesahan Suara
  • Hampir 30 Ribu Warga Kabupaten Bandung Mengungsi Akibat Banjir
  • Persiapan Pemilu, Polisi Malaysia Dilarang Cuti 3 Bulan Ini

Pada 2018 Yayasan Pantau memberikan penghargaan ini kepada Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, untuk keberaniannya mengarahkan liputan tentang demokrasi dan toleransi.