Surat 'Misterius' untuk Aktivis Penolak Semen Rembang

"Bukan menolak (surat) gitu bukan, tetapi kan tidak sesuai (nama dan alamatnya). Hanya ini kan bukan nama saya, dan alamatnya juga berbeda," kata Print pada polisi Rembang.

Kamis, 23 Feb 2017 09:35 WIB

Aksi warga penolak semen memblokir akses jalan menuju pabrik PT Semen Indonesia di Rembang, Jawa Tengah, Jumat (10/2/2017). (Foto: omahekendeng/Twitter)


KBR, Rembang - Rabu (22/2/2017) petang, sebuah mobil silver memasuki rumah Koordinator Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) Rembang, Joko Prianto di Desa Tegaldowo, Rembang, Jawa Tengah.

Sore itu, Print---sapaan akrab Joko Prianto---dan keluarganya sedang berkumpul di teras rumah, ngobrol.

Tak ada yang tahu siapa yang ada di mobil itu, karena selama lima menit tak ada yang keluar dari mobil itu.

Tak berapa lama datang lagi mobil kedua. Tak masuk halaman rumah, mobil hanya menepi di pinggir jalan. Mobil milik awak sebuah media nasional.

Tim jurnalis beberapa hari belakangan memang berada di Rembang, meliput isu pro dan kontra pendirian pabrik semen PT Semen Indonesia. Salah seorang jurnalis kemudian terlihat keluar dari mobil kedua. Jurnalis berseragam merah itu sejak siang memang sudah bikin janji dengan Print, untuk peliputan.

"Repot, Mas? Itu ada tamu, Mas," kata jurnalis itu sambil menunjuk ke arah mobil silver 'misterius'.

Baru saja ditunjuk, mobil silver itu justru bergerak keluar meninggalkan halaman. Bahkan sebelum masuk dan menyapa tuan rumah.

Beberapa menit kemudian, datang mobil polisi berwarna abu-abu. Namun, begitu masuk halaman rumah Joko Prianto tak ada yang keluar. Beberapa menit kemudian, mobil polisi itu pun pergi begitu saja meninggalkan halaman rumah.

Selepas Maghrib, kembali datang tamu. Kali ini dua orang mengendarai sepeda motor. Tamu itu utusan dari Polres Rembang.

"Tadi ada mobil polisi, kok balik?" tanya Joko Prianto membuka pembicaraan dengan tamu itu.

"Itu ya aku tadi, tapi karena (halaman) becek banget, ya balik saya," kata polisi dari Polsek Rembang tersebut. Dua polisi itu datang bukan tanpa maksud, mereka membawa sebuah surat.

"Surat apa ini?," kata Print memeriksa surat.

"Ini alamatnya salah, ini. Aku bukan orang Timbrangan. Ini bukan aku berarti. Wong alamat saya Tegaldowo," kata Print setelah memeriksa surat.

"Tur yo jenengku dudu kuwi (Dan lagi namaku bukan itu). Aku kalau terkait nama tidak bisa," imbuhnya lagi.

Amplop putih itu bertuliskan Joko Priyanto, sedangkan nama koordinator JMPPK Rembang ini adalah Joko Prianto. Selain itu, alamat juga berbeda. Print ditulis sebagai warga Desa Timbrangan, Kecamatan Gunem. Padahal identitas KTP-nya menunjukkan dia warga Tegaldowo.

"Nanti kalau saya menerima (surat ini), dan ternyata bukan saya kan, keliru saya. Bukan menolak (surat) gitu bukan, tetapi kan tidak sesuai (nama dan alamatnya). Hanya ini kan bukan nama saya, dan alamatnya juga berbeda," kata Print saat mengembalikan amplop surat yang tertutup itu.

"Nanti saya sampaikan (kesalahan penulisan nama dan alamat)," kata polisi.

Dua polisi pun pamit. KBR bertanya ke salah satu polisi itu mengenai isi surat, namun utusan Polres Rembang itu mengaku tak tahu. Ia mengatakan, hanya menjalankan tugas untuk mengantar surat.

"Nggak tahu saya. Saya hanya mengantar," katanya sebelum pergi.

Belakangan, nama Joko Prianto kerap disebut dalam kasus dugaan pemalsuan dokumen berkas Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung. Dia sempat dipanggil Polda Jawa Tengah sebagai saksi.

Baca juga:


Kasus ini merupakan buah pelaporan yang diajukan pengacara PT Semen Indonesia terhadap enam warga Rembang. Salah satunya Joko Prianto.

Joko dituding memalsukan dokumen tanda tangan 2501 warga penolak pabrik semen yang dijadikan data pendukung gugatan PK atas izin lingkungan PT Semen Indonesia di Rembang, Jawa Tengah.

Perkara lain yang juga sedang diselidiki polisi adalah kasus pengrusakan berujung pembakaran tenda kelompok pro dan kontra pabrik semen di Rembang.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Paripurna DPR untuk Tentukan Perppu Ormas

  • Departemen Keamanan Dalam Negeri AS Sikapi Penolakan Gatot
  • Presiden Belum Izinkan Gatot ke AS
  • Penghargaan FIFA, Tahunnya Real Madrid