Naik Lagi, Harga Cabai di Perbatasan Nunukan Tembus Rp130 Ribu per Kg

Salah seorang pedagang yang biasa memasok kebutuhan cabai di Pasar Jamaker, Nunukan, Apri mengatakan seminggu terakhir harga cabai di tingkat pengecer naik Rp10 ribu per kilogram.

Kamis, 23 Feb 2017 10:53 WIB

Pedagang cabai di Pasar Jamaker, Nunukan, Kalimantan Utara. (Foto: Adhima Sukotjo/KBR)


KBR, Nunukan – Selama dua bulan terakhir harga cabai di beberapa pasar tradisional di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara bertahan di harga Rp120 ribu per kilogram.

Saat ini harga cabai kembali merangkak naik, karena masih minimnya pasokan cabai dari Sulawesi. Harga cabai di pasar Nunukan kini bahkan tembus Rp130 ribu per kilogram.

Salah seorang pedagang yang biasa memasok kebutuhan cabai di Pasar Jamaker, Nunukan, Apri mengatakan seminggu terakhir harga cabai di tingkat pengecer naik Rp10 ribu per kilogram.

"Itu paling tinggi sudah satu tiga (Rp130 ribu). Ya mulai dari awal bulan satu (Januari) begitu dia, harganya naik turun. Pokoknya lombok lokal rata rata Rp120 (ribu)," kata Apri, di Nunukan, Kamis (23/2/2017).

Baca juga:


Selama ini pedagang di Nunukan mendapat pasokan cabai dari Sulawesi dan dari Tawau, Malaysia. Meski harga cabai dari Malaysia lebih murah, namun pembeli memilih cabai dari Sulawesi maupun dari petani lokal.

Kenaikan harga cabai paling tinggi saat ini dialami cabai hasil produksi petani lokal Nunukan. Tingginya harga cabai lokal karena masih terjaga kesegarannya.

Apri memperkirakan harga cabai masih akan tinggi hingga memasuki April, karena di bulan tersebut petani cabai lokal mulai panen.

"Mulai sekarang kan banyak yang sudah menanam. Mungkin awal bulan empat (April) baru mulai ada perubahan (harga). Tanaman cabai dari kelompok-kelompok tani ini banyak yang sudah mulai berbuah," imbuh Apri.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Wiranto: Kasus HAM Masa Lalu Sulit Diungkap

  • 131 TKI Ilegal Dideportasi Malaysia
  • Jasa Antar Obat RSUD Blambangan Banyuwangi
  • Pelatih Kritik Kualitas Liga 1