Lebih dari 400 Rumah Rusak Terdampak Gempa Lebak Banten

Kecamatan Panggarangan mengalami dampak paling parah, dimana ada 92 rumah rusak. Meski begitu, tak terjadi pemutusan akses, sehingga memudahkan evakuasi warga.

Selasa, 23 Jan 2018 19:56 WIB

Rumah rusak terdampak gempa Lebak, Banten, Selasa (23/1/2018). (Foto: BNPB)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada lebih dari 470 rumah di Provinsi Banten dan Jawa Barat rusak terdampak gempa pada Selasa, 23 Januari 2018.

Gempa berkekuatan 6,1 Skala Richter yang terjadi Senin (23/1/2018) pukul 13.34 WIB itu mengguncang kawasan selatan Banten dari kedalaman 10 kilometer.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak, Banten mencatat terdapat sembilan kecamatan di Lebak yang terdampak gempa. 

Staf Pelaksana BPBD Lebak Irman Utarman mengatakan Kecamatan Panggarangan mengalami dampak paling parah, dimana ada 92 rumah rusak. Meski begitu, tak terjadi pemutusan akses, sehingga memudahkan evakuasi warga.

"Untuk evakuasi warga, kami masih menunggu kabar relawan di lapangan. Ini baru meluncur. Tapi infonya, paling banyak yang lecet-lecet. Tidak terlalu parah," kata Irman kepada KBR, Selasa (23/1/2018).

Irman mengatakan, gempa juga berdampak pada hunian warga di Kecamatan Cilograng, Bayah, Wanasalam, Lebak Gedong, Sobang, Cimarga, Sajira, dan Cihara, dengan masing-masing kerusakan di bawah 10 rumah.

Irman mengatakan saat ini BPBD telah menerjukan sekitar 15 anggota untuk mengevakuasi warga, dibantu seorang relawan yang berasal dari masing-masing kecamatan. 

Irman mengatakan belum mengetahui jumlah korban sampai saat ini, dan masih menunggu laporan dari rumah sakit maupun puskesmas.

Baca juga:


Salah satu rumah rusak akibat gempa di Kampung Kakudu, Cilograng, Lebak, Banten, Selasa (23/1/2018). (Foto: ANTARA/Asep Fathulrahman) 

Kerusakan

Gempa yang mengguncang Lebak, Banten, Selasa siang juga dirasakan cukup kuat di Jakarta, Tangerang Selatan dan Bogor dengan intensitas IV hingga V skala MMI, Bandung-Purwakarta skala II hingga II MMI dan melemah hingga Kebumen (II hingga III skala MMI) dan Lampung (II skala MMI). 

Berdasarkan informasi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), gempa juga berdampak di Kabupaten Cianjur, Sukabumi, Kabupaten Bogor dan Pandeglang. Di Cianjur dua unit rumah rusak dan satu sekolah mengalami genting runtuh hingga melukai sejumlah siswa SMK Tanggeung.

Sedangkan di Sukabumi, sembilan rumah rusak ringan, satu rumah rusak sedang, satu masjid rusak berat dan dua fasilitas umum rusak ringan. Kerusakan rumah juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Bogor dan Pandeglang. 

BNPB mencatat di Provinsi Banten total ada 479 rumah rusak, 1 masjid dan 1 puskesmas rusak di Provinsi Banten dan Jawa Barat.

"Sebagian besar kerusakan rumah dan bangunan akibat minimnya konstruksi menahan gempa," kata Juru bicara BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam rilis yang diterima KBR.

Waspada hoaks

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga meminta masyarakat berhati-hati terhadap setiap informasi yang beredar yang menyebutkan akan ada gempa susulan berkekuatan besar pascagempa Lebak Banten. BMKG menyatakan informasi itu hoaks atau palsu.

"Perlu diketahui bahwa hingga saat ini peristiwa gempa bumi belum dapat diprediksi dengan tepat dan akurat, kapan, berapa kekuatan dan dimana akan terjadi," kata Kepala Bidang Informasi Gempa dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono dalam rilis yang diterima KBR.

Daryono mengatakan hingga Selasa (23/1/2018) petang, aktivitas gempa susulan di selatan Banten mencapai 26 kali dengan kekuatan yang terus melemah, sehingga sangat kecil potensi akan terjadi gempa susulan dengan kekuatan besar.

"Dari sekian banyak isu akan terjadi gempa bumi, selama ini tidak ada satu pun yang terbukti kebenarannya. Untuk itu masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak mudah percaya isu akan terjadi gempa," kata Daryono.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang