Harga Cabai Rawit di Cirebon Tembus Rp200 Ribu per Kg

Sebelumnya harga cabai di Cirebon sekitar Rp60 ribu per kilogram. Namun dalam sepekan ini harganya sudah naik lebih dari 200 persen.

Kamis, 12 Jan 2017 18:51 WIB

Tim Pengendali Inflasi Daerah TPID Cirebon melakukan sidak memantau harga cabai dan komoditi lain di pasar tradisional. (Foto: Frans Mokalu/KBR)

KBR, Cirebon - Harga cabai rawit merah atau juga disebut cabai setan di Cirebon Jawa Barat menembus angka Rp200 ribu per kilogram.

Sebelumnya harga cabai di Cirebon sekitar Rp60 ribu per kilogram. Namun dalam sepekan ini harganya sudah naik lebih dari 200 persen.

Selain cabai rawit merah, kenaikan harga juga terjadi pada cabai merah keriting dari Rp40 ribu menjadi Rp70 ribu per kilogram.

Konidisi ini diketahui dari pantauan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Cirebon saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke tiga pasar tradisional di Kota Cirebon yakni, Pasar Pagi, Pasar Prumnas, dan Pasar Kanoman.

Seorang pedagang cabai di Pasar Pagi, Sarah mengeluhkan kenaikan cabai tersebut karena omzet penjualannya mengalami penurunan.

"Sudah sekitar seminggu ini harga cabai rawit setan Rp200 ribu. Pembeli jadi berkurang, malah hampir tak ada yang membeli," kata Sarah di Pasar Pagi Cirebon, Kamis (12/1/2017).

Baca juga:


Di Pasar Perumnas, cabai rawit merah juga naik sebesar Rp 120 ribu per kilogram, atau naik dua kali lipat dari harga sebelumnya. Para pedagang mengatakan kenaikan harga cabai disebabkan karena tanaman cabai rusak di musim hujan.

"Katanya, karena musim hujan. Jadi banyak tanaman cabai busuk sehingga petani gagal panen," kata Ida, seorang pedagang di Pasar Perumnas.

Asisten Daerah Perekonomian dan Pembangunan Kota Cirebon Yoyon Indrayana mengakui, harga cabai saat ini tengah tinggi, sehingga menurunkan daya beli masyarakat.

"Masyarakat menyesuaikan harga di pasaran dengan yang dibeli. Mereka akhirnya beli eceran," kata Yoyon.

Ia memperkirakan ada faktor lain juga yang menyebabkan harga cabai melambung tinggi, termasuk kemungkinan adanya permainan tengkulak. Meski begitu ia memastikan TPID akan mengkaji situasi itu untuk memastikan penyebabnya.

"Penyebab lain selain faktor cuaca, bisa saja dari kenaikan harga bahan bakar atau permainan pedagang grosir," kata Yoyon.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Cirebon Abdul Madjid Ikram menyebutkan, sidak dari TPID juga memantau kondisi sepuluh komoditi di pasar tradisional Kota Cirebon seperti cabai, bawang, daging ayam, daging sapi, minyak goreng, dan lainnya.

"Rata-rata harga seluruh komoditi itu tak terlalu melonjak. Yang fluktuatif ya terutama cabai rawit merah," pungkasnya.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

Moratorium Reklamasi, Menteri Siti : Pulau C dan D Kurang Satu Syarat, Pulau G Dua Syarat

  • Adik Bos First Travel Ikut Jadi Tersangka
  • Penembakan Deiyai, Tujuh Anggota Brimob dan Kapolsek Akan Jalani Sidang Etik Pekan Depan
  • Tuntut Pembatalan Perppu Ormas, Ratusan Orang Demo DPRD Sumut

Dalam Perbincangan Ruang Publik KBR kali ini, kita akan punya 5 topik utama, penasaran? ikuti perbincangan Ruang Publik KBR