Pasien Difteri Sukabumi Meninggal

Pasien terlambat mendapatkan anti difteri serum (ADS) karena permintaan telat direspon dinas kesehatan setempat.

Rabu, 20 Des 2017 20:50 WIB

Ilustrasi

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Bandung- Seorang pasien anak asal Sukabumi, Jawa Barat yang terpapar difteri meninggal di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Saluran pernapasan pasien tersumbat sejak datang, Sabtu (16/12) pukul 21.19 WIB.

Staf dokter rumah sakit, Stanza Uga mengatakan, pasien tidak mendapat anti difteri serum (ADS) selama penanganan. Sebab permintaan ADS telat direspon oleh dinas kesehatan setempat.

"Anti Difteri Serum itu secara ideal kalau kita membutuhkan saat ini harus segera ada, tapi prosesnya tidak se-simple itu. Pengadaan ADS itu tidak sederhana, kita harus harus berkoordinasi dengan dinas. Nah dari dinas itu nanti yang ngedrop ke depo farmasi (rumah sakit)," kata Stanza kepada KBR, Rabu (20/12).

Stanza Uga menilai jalur permohonan ADS terlalu panjang. Akibatnya nyawa pasien anak tidak dapat tertolong karena terlambat hampir 5 jam mendapatkan anti serum. Padahal kata Uga, kondisi pasien secara umum saat ditangani di IGD RS Hasan Sadikin sudah membaik. 

Saat ini RS Hasan Sadikin Bandung masih merawat enam pasien difteri di ruang isolasi sejak tanggal 16 Desember 2017. 

Editor: Sasmito

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.