Tim SAR Kesulitan Cari Helikopter TNI AD

Pencarian lewat jalur udara dihentikan sementara, karena awan tebal.

Minggu, 27 Nov 2016 15:18 WIB

Ilustrasi helikopter Bell milik TNI AD. Foto: Kemenhan.go.id

KBR, Jakarta- Tim SAR gabungan masih kesulitan mencari  helikopter jenis Bell-412 EP milik Pusat Penerbangan TNI AD yang jatuh pada Kamis, 24 Nopember lalu. Juru bicara TNI , Wuryanto mengatakan, hari ini tim SAR yang mencari lewat jalur udara dihentikan sementara, karena awan tebal.

Sementara jalur darat juga sulit dilalui. Sebab jalan menuju Desa Long Sulit, Kecamatan Mentarang Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara yang diduga menjadi lokasi jatuhnya pesawat masih berupa hutan dan di atas 4.000 kaki.

"Sampai saat ini belum ditemukan. Pencarian lewat udara tidak bisa dilaksanakan, karena di lokasi yang diperkirakan tertutup awan. Sudah fokus ke titik pencarian kemarin. Titik-titik kemarin kan sudah ada tanda-tanda," ujarnya kepada KBR, Minggu (27/11/2016).

Desa yang diduga menjadi tempat jatuh helikopter itu berdasarkan sinyal ELT yang dipancarkan Heli 412, dan laporan dari masyarakat di Mentarang Hulu.

"Saat melihat ada Heli terbang, Kamis kemarin, pada saat cuaca hujan, dua kali muter, kaya sedang mencari tempat mendarat. Dari situlah kita fokus pencarian," katanya.

Saat ini beberapa tim udara masih bersiaga di desa terdekat, yakni lima kilometer dari tempat pendaratan Heli.

"Kemarin ada pohon yang bekas patah daun rantingnya, kita fokus itu. Dua heli yang diberangkatkan itu semuanya tidak melaksanakan kegiatan pencarian, karena masih tertutup awan," ungkapnya.

Sementara tim pencarian darat yang  dipimpin langsung Komandan Korem 091, Makmur dan dibantu masyarakat setempat, masih bersiga di desa Long sulit.

Sebelumnya, Heli Bell 412 yang hilang kontak dipiloti oleh Lettu Cpn Yohannes Syahputera dan mengangkut 3 prajurit TNI AD lainnya.

Heli ini lepas landas dari Tarakan, pukul 10.54 Wita, Kamis (24/11). Kontak pertama pukul 11.16 Wita dengan Malinau Tower dan kontak terakhir pada pukul 11.29 Wita ke tower yang sama dengan posisi 8 NM dari Malinau, Kaltara. 


Editor: Sasmito

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

KPPU Belum Temukan Indikasi Monopoli PT IBU

  • Menristek Bakal Tindak Dosen HTI Sesuai Prosedur
  • PUPR Kejar Sejumlah Ruas Trans Sumatera Beroperasi 2018
  • Kelangkaan Garam, Kembali ditemukan Garam Tak Berlogo BPOM

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.