Jokowi di markas Brimob, Jumat (11/11). (Sumber: Insta Jokowi)


KBR, Jakarta- Presiden Joko Widodo dinilai tengah khawatir dengan posisinya sebagai kepala negara. Hal tersebut menyusul upaya Presiden Joko Widodo bersafari ke sejumlah elemen, termasuk tentara dan polisi. Pengamat Militer Aris Santoso menilai, sebagai presiden yang berasal dari kalangan sipil, Joko Widodo memiliki kekhawatiran apabila TNI dan Polri tidak solid mendukungnya sebagai kepala negara.
"Jadi bisa dikatakan upaya Jokowi untuk 'mengecek ombak' di TNI dan Polri," kata Aris kepada KBR, Jumat (11/11).

Selain itu, Joko Widodo juga dinilai ingin menegaskan dirinya sebagai Panglima tertinggi TNI dengan artian sesungguhnya. Bukan hanya simbolik.

"Secara simbolik memang Joko Widodo sebagai Panglima Tertinggi TNI. Tapi itu hanya simbolik saja. Dia sebagai presiden yang berasal dari sipil, merasa kurang firm dalam mengontrol TNI. Sehingga ia perlu memastikan hal tersebut; meski bukan berasal dari Angkatan Darat, dia bisa mengontrol TNI. Karena memang berbeda dengan SBY, yang kebetulan dari Angkatan Darat. Sehingga dia bisa mengontrol sepenuhnya," katanya.

Aris menambahkan, langkah Joko Widodo untuk mengunjungi markas Kopassus di Cijantung, Jakarta Timur dianggap merupakan langkah yang tepat.

"TNI, khususnya Angkatan Darat sudah seperti negara dalam negara. Mereka memiliki bargain yang kuat ke eksekutif. Sehingga Jokowi memang perlu mencari titik temu itu. Berbeda dengan kepolisian, yang sejak jaman Orde Lama cepat menyesuaikan diri," katanya.

Sepekan terakhir ini Presiden Joko Widodo melakukan safari ke berbagai elemen masyarakat, mulai dari organisasi masyarakat Islam, lembaga keagamaan. Hari ini Jokowi mengunjungi markas Brimob, Kepolisian dan markas Marinir, pasukan elit TNI  Angkatan Laut.   Dalam kunjungannya ke berbagai  kesatuan, Jokowi selalu panglima tertinggi menekankan tentang kesatuan, keragaman, kebhinnekaan dan ke-Indonesiaan.

Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!