Ilustrasi (Foto: Antara)



KBR, Jakarta-  Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) perwakilan Papua belum mendapatkan hasil klarifikasi terkait dugaan pelanggaran HAM serius saat bentrokan  polisi dengan  warga di Manokwari, Papua Barat. Kepala Sekretariat Perwakilan Komnas HAM Papua, Frits Ramendey mengatakan, ada penyerangan aparat gabungan dari Polres dan Brimob yang menyerang rumah warga pada saat kejadian.

Kata dia, serangan brutal itu menggunakan gas air mata dan diwarnai pemukulan lima pemuda di rumah tersebut. Padahal kata dia, di dalam rumah tersebut ada anak-anak dan perempuan.

"Dilakukan oleh aparat gabungan baik yang dari Polres maupun Brimob yang di BKO-kan. Karena, mereka menembakkan gas air mata ke rumah itu dan gasnya masuk ke dalam rumah dan mengakibatkan anak-anak bayi terkena gas air mata. Perempuan sangat menjerit kesakitan dan anak-anak histeris karena gas air mata itu. Kita belum mendapat klarifikasi dari Polda Papua Barat, oleh karena itu kita meminta kepada Kapolda Papua Barat untuk memberikan klarifikasi," jelas Kepala Sekretariat Perwakilan Komnas HAM Papua, Frits Ramendey kepada KBR, Jumat (4/11/2016).


Kata dia, Komnas HAM Papua masing menunggu hasil pemeriksaan Polda Papua Barat terkait penyerangan itu. Komnas HAM Papua sudah bertemu dengan Kapolda Papua Barat Royke Lumowa dan dijanjikan akan diusut anggota Polri yang terlibat penyerangan tersebut.

"Kapolda sudah memeriksa sejumlah anggotanya, jadi langkah-langkah percepatan untuk pengungkapan dilakukan oleh Kapolda Papua Barat. Saya sudah mengirimkan laporan ke Komnas HAM Pusat di Jakarta untuk melakukan pendalaman terkait dugaan kami tentang adanya pelanggaran HAM serius," ujarnya.

Baca: 24 Anggota Polisi Diperiksa

Sebelumnya Kepala Kepolisian Indonesia, Tito Karnavian  berjanji bakal menindak tegas pelaku penembakan apabila terbukti melanggar hukum.

"Polisi berusaha untuk mencegah tapi polisi juga kemudian diserang.  Kapolda datang, Brimob datang, kemudian semua bisa dikuasai, tapi sempat ada tembakan dan dari tembakan itu mengakibatkan ada satu orang meninggal dunia. Kebetulan dia adalah orang tua dari anggota polisi yang tinggal di rumah Kapolda," ucapnya kepada wartawan di Ruang Rupatama, Mabes Polri, Jakarta beberapa waktu lalu.

Kata dia, kerusuhan terjadi di Jalan Yos Sudarso, kompleks Pasar Sanggeng, Kabupaten Manokwari, Papua Barat pada malam hari. Menurut dia, kerusuhan berawal dari salah seorang warga  yang tidak membayar setelah makan di sebuah warung milik pendatang.

Pemilik warung menegur dan terjadi keributan yang mengakibatkan  salah seorang warga tadi terluka akibat tikaman senjata tajam. Peristiwa  berlanjut hingga   warung makan tersebut dibakar warga yang tidak terima  penikaman.

"Itu masalah ribut karena ada warga Papua dari Manokwari yang makan, tetapi belum bayar. Sehingga akhirnya, kebetulan yang punya warung pendatang, sehingga ini akhirnya ribut mulut cekcok. Ada versi mabuk, ada versinya tidak mabok. Sehingga akhirnya ada penikaman, luka warga Papua ini, lalu melaporkan kepada teman-temannya, kemudian teman-temannya marah sehingga akhirnya menyerang," ujarnya.


Editor: Rony Sitanggang 



Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!