PSSI Dipimpin Militer, Budiarto: Bagus Itu

Menurut preseden, selama Ketum-nya itu dari kalangan TNI/Polri dari jaman Bung Karno sampai Agum, aman tuh tidak ada yang ngatur skor, suap.

Kamis, 10 Nov 2016 18:30 WIB

Kongres PSSI 2016 di Jakarta (Foto: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}



KBR, Jakarta- Kongres PSSI akhirnya menetapkan Edi Rahmayadi sebagai ketua umum PSSI 2016-2020. Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) itu bakal didampingi Joko Driyono dan Iwan Budianto sebagai wakil ketua umumnya.

Terpilihnya pemimpin berlatarbelakang militer ini ternyata diidamkan pengamat sepak bola, Budiarto Sambazy. Sebelum pemilihan berlangsung, melalui sambungan telepon kepada KBR, Kamis (10/11/2016), Budiarto mengatakan sosok ketua yang paling dibutuhkan PSSI saat ini adalah orang yang berlatar belakang militer.

Kata dia, pemimpin dengan latar belakang militer akan memiliki ketegasan untuk menciptakan kompetisi yang kondusif karena maraknya kasus suap wasit dan pengaturan skor pertandingan. Sementara untuk calon-calon lainnya, menurut Budiarto, belum cukup baik untuk bisa memperbaiki carut marut persepakbolaan Indonesia saat ini.

"Baju hijau (TNI) itu ya punya jaringan untuk mengamankan pertandingan. Menurut preseden, selama Ketum-nya itu dari kalangan TNI/Polri dari jaman Bung Karno sampai Agum, aman tuh tidak ada yang ngatur skor, suap. Ini urgensi saat ini ya, bukan kita tidak yakin dengan yang (calon) lain ya, makanya dari awal Pangkostrad itu dari awal sudah jadi favorit," ujar pengamat yang kerap disapa Bas melalui sambungan telepon dengan KBR pada Kamis (10/11) hari ini.

Budiarto juga menambahkan, kepengurusan PSSI yang baru nantinya harus mampu menuntaskan beberapa pekerjaan rumah, utamanya antara lain mengembalikan rasa aman dan nyaman berkompetisi di lapangan hijau, pengelolaan timnas, bebas pengaturan skor, dan bebas mafia wasit.

"Ini politis tapi harus kuat supaya tidak seperti kemarin, sebentar-sebentar goyah. Dualisme kepengurusan, dualisme kompetisi, jika ada orang dari TNI/Polri akan lebih stabil," lanjutnya.

Berkaitan dengan hari pahlawan hari ini, Budiarto juga berharap kepengurusan yang baru nantinya bisa segera memperbaiki prestasi sepakbola tanah air. "Perhatian publik tertuju kesitu. Pemain-pemain bola kita mampu menunjukkan prestasi. Cuma kalau pengurus (PSSI) ribut melulu ya mereka juga bakal terpengaruh," tutup Budiarto.

Editor: Dimas Rizky

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

Menristek Minta Dosen Mundur Karen HTI, Pengamat: Itu Ngawur

  • Jokowi : Pengadaan Alutsista Harus Lewat G to G
  • Indonesia Jadi Tuan Rumah Konferensi Anti Terorisme
  • Terus Lakukan Intimidasi Penggusuran, Warga Dobrak Gerbang PT KA Bandung

Indonesia mengalami masalah ketimpangan (inequality) dan tengah berupaya memeranginya. Simak perbincangannya hanya di Ruang Publik KBR, Rabu 26 Juli 2017 pukul 09.00-10.00 WIB.