Pekan Depan, Puluhan Anak Petani Karawang Mengadu ke Jokowi

Lebih dari 30 anak petani Teluk Jambe Karawang, Jawa Barat berencana mendatangi Istana Negara pekan depan untuk bertemu Presiden Joko Widodo.

Sabtu, 05 Nov 2016 21:31 WIB

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Jakarta - Lebih dari 30 anak petani Teluk Jambe Karawang, Jawa Barat berencana mendatangi Istana Negara pekan depan untuk bertemu Presiden Joko Widodo.

Kepala Divisi Advokasi Serikat Tani Nasional (STN) Iskohar mengatakan, anak-anak tersebut ingin mengadukan secara langsung penderitaan yang dialami akibat konflik lahan dengan PT Pertiwi Lestari. Selain itu, puluhan anak tersebut selama dua bulan terakhir tak lagi bisa bersekolah.

"Biar pemerintah ini hadir di tengah-tengah masyarakat, di saat konflik yang begitu panjang, ini korbannya juga termasuk anak-anak, yang sudah hampir dua bulan juga nggak mengakses pendidikan," kata Iskohar ketika dihubungi KBR, Sabtu (5/11/2016).

"Mereka nggak bisa sekolah, mereka juga masih trauma dengan adanya polisi dsb. Paling nggak kalau ke sana biar Pak Jokowi tahu, Presiden tahu tentang persoalan ini," imbuhnya.

Baca juga:

Kepala Divisi Advokasi STN Iskohar menambahkan, hingga saat ini ratusan petani masih bertahan di kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta dan Wisma Kontras. Kata dia, banyak di antara mereka yang terserang penyakit. Selain itu, persediaan logistik juga semakin menipis.

Sementara, situasi di Teluk Jambe, Karawang dikabarkan semakin tidak terkendali. Menurut Iskohar, pihak perusahaan menutup akses jalan masuk ke kampung dengan membangun pintu gerbang sejak pekan lalu.

"Sekarang makin ngeri perusahaan PT Pertiwi Lestarinya. Kalau kemarin cuma bikin portal, sekarang sudah bikin kayak pintu gerbang gitu. Jadi di luar portal, di dalamnya ada pintu gerbang. Jadi akses masuk petani kayaknya sudah nggak ada," ujar dia.

Baca juga:





Editor: Nurika Manan


Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Wiranto Batalkan Wacana Pj Gubernur dari Polisi

  • PPATK: Politik Uang Rawan sejak Kampanye hingga Pengesahan Suara
  • Hampir 30 Ribu Warga Kabupaten Bandung Mengungsi Akibat Banjir
  • Persiapan Pemilu, Polisi Malaysia Dilarang Cuti 3 Bulan Ini

Pada 2018 Yayasan Pantau memberikan penghargaan ini kepada Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, untuk keberaniannya mengarahkan liputan tentang demokrasi dan toleransi.