Ilustrasi: Salah satu posko aksi 4 November. (Foto: KBR/Yudi R.)



KBR, Jakarta- Dapur umum posko demo Ahok di Menteng, Jakarta Pusat, hanya mampu menyediakan logistik sampai besok siang. Salah satu panitia dapur umum yang enggan menyebutkan namanya mengatakan para peserta demo diberikan logistik yang sangat terbatas.

Kata dia, bahkan untuk minum saja hanya dijatah 2 botol air mineral.

"Seperti minuman tersedia untuk 1000 orang tersedia sampai hari esok. Minuman itu sampai magrib. 1 orang terdistribusi 2 botol," terangnya kepada KBR di posko, Kamis (3/11/2016) malam.

"Makanan paling hanya siang saja, setelah jam 3," tambahnya.

Dia menjelaskan, saat ini poskonya telah menampung 700 peserta aksi. Sementara masih ada 800 peserta lain yang akan datang Kamis malam. Total, posko ini akan menampung 1500 hingga 2000 orang.

"Kebanyakan peserta dari Jawa Tengah seperti Purworejo, Kebumen, dan Wonosobo," terangnya.

Posko ini adalah yang paling dekat dengan lokasi aksi di Balaikota Jakarta. Disusul posko Istiqlal yang diperkirakan menampung puluhan ribu orang.

"Ini ring satu," katanya.

Saat itu, wawancara dilakukan di tengah-tengah 10 orang panitia. Saat akan ditanya lebih lanjut, satu panitia lain menghentikan proses wawancara. Orang tersebut menanyakan identitas jurnalis KBR yang sedang meliput.

"Antum dari mana? Antum intel ya? Dari tadi saya perhatikan lewat-lewat terus," tandasnya.

Setelah dijelaskan dan ditunjukkan kartu wartawan, orang tersebut masih tidak percaya. Akhirnya dia meminta seluruh panitia dan koordinator peserta untuk tidak memberikan keterangan lagi.

"Semua sepakat? Semua sepakat?" katanya yang langsung disambut anggukan para panitia lain.

Dia menyatakan tidak sembarang orang bisa masuk ke posko tersebut.  Karena itu, jurnalis KBR diminta keluar dari lokasi saat itu juga.


Editor: Rony Sitangang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!