Pengunjung berada di anjungan pameran produk dalam rangka Jambore Masyarakat Gambut di GOR Kota Baru, Jambi, Sabtu (5/11). (Foto: Antara)



KBR, Jakarta- Badan Restorasi Gambut (BRG) petakan empat permasalahan yang dihadapi masyarakat yang mengelola lahan gambut. Hal itu didapat dari masyarakat yang saling berbagi pengalaman di kegiatan Jambore Masyarakat Gambut 2016 di Jambi.

Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan pada Badan Restorasi Gambut (BRG), Myrna A. Safitri mengatakan, permasalahan yang dihadapi masyarakat yakni; satu kurangnya pengetahuan tentang jenis-jenis komoditi yang bisa ditanam di lahan gambut, kedua masalah pendanaan, ketiga masalah pemasaran produk, dan keempat konflik agraria.

"Nah itu semua memang harus diselesaikan, tapi strateginya harus diselesaikan secara paralel. Jadi kita tidak bisa selesaikan konflik dulu baru kita bicara pemberdayaan ekonomi. Karena kalau itu berlangsung pasti waktunya akan lebih lama," kata Myrna usai penutupan Jambore Masyarakat Gambut 2016 di Gor Kotabaru Jambi, Senin (07/11/16).

"Konflik tetap jadi agenda penting, BRG akan memfasilitasi. BRG tidak menyelesaikan konflik karena kami bukan instansi yang punya kewenangan untuk menyelesaikan konflik. Tapi kami memfasilitasi dengan instansi yang punya kewenangan itu," jelas Myrna.

Tindak lanjut dari Jambore Masyarakat Gambut ini semua peserta akan masuk ke dalam database BRG. Diharapkan masyarakat gambut dari berbagai daerah ini menjadi kader restorasi gambut di tingkat desa. Kemudian semua ahli dan undangan yang menjadi narasumber akan difasilitasi untuk tetap berjejaring dengan masyarakat.

Basri Hendri Darun, salah satu petani ladang peserta jambore dari desa mentangai hulu, Kecamatan Mentangai, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah mengaku mendapat banyak informasi dari Jambore Masyarakat Gambut 2016 ini. Basri yang bertani ladang di lahan gambut tipis ini mendapat informasi terkait pengolahan lahan gambut tipis tanpa bakar.

Basri mengatakan, kelompok tani di daerahnya sedang menerapkan pengelolaan lahan gambut tipis tanpa bakar dalam setahun terakhir. Namun proses pengelolaan itu masih belum maksimal. Sehingga dengan adanya Jambore ini, ia akan mensosialisasikan pengelolaan gambut tanpa bakar dengan petani-petani lain di daerahnya.

Selain itu, Basri juga akan mencoba menanam komoditi-komoditi lain yang bisa ditanam di lahan gambut. Seperti Kopi, Nanas, Kakao, Jelutung dan berbagai jenis produk pertanian lainnya.

Produk Unggulan

Para petani yang ikut menjadi peserta Jambore Masyarakat Gambut 2016 didorong agar dapat mengembangkan produk pertanian unggulan dari lahan gambut. Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG), Nazir Foead berharap, usai jambore ini dapat muncul inovasi-inovasi tingkat lokal dalam perlindungan dan pengelolaan lahan gambut.

"Bagaimana mengelola gambut dari jaman kakek nenek kita dulu, pengalaman tersebut dapat kita kembangkan menjadi pedoman kebijakan yang dijadikan referensi atau rujukan oleh pemerintah dan dipraktekkan bersama oleh pemegang ijin maupun masyarakat untuk mengelola lahan mereka. Inovasi-inovasi lokal ini kami percaya akan melahirkan inovator baru, dan inovator baru ini dapat menjadi penggerak tidak hanya dalam upaya restorasi tapi juga pembangunan ekonomi yang berkelanjutan," kata Nazir di GOR Kotabaru, Jambi, Senin (07/11/16).

Sementara itu Veronica Herlina, selaku Direktur Eksekutif Sustainable Platform Coffee Indonesia (SCOPI) di acara Jambore Masyarakat Gambut 2016 mengatakan, petani di lahan gambut   bisa mengambil peluang dalam pengembangan kopi jenis liberika. Jenis kopi tersebut mempunyai prospek yang bagus karena bisa tumbuh di lahan gambut dan peminat pasarnya juga besar.

Selain kopi, produk pertanian yang bisa dikembangkan di areal lahan gambut diantaranya Nanas, Kakao, Jelutung dan berbagai jenis produk pertanian lainnya. Dalam produk yang sudah dihasilkan itu, para petani juga didorong untuk berinovasi dalam strategi pemasaran produk pertanian yang dihasilkan dari lahan gambut.

Kemudian masyarakat juga didorong memanfaatkan limbah-limbah pertanian di lahan gambut. Seperti yang dilakukan Nur Asiah (40), warga Desa Pematang Rahim, Kecamatan Mendara Hulu, Tanjung Jabung Timur Jambi, ia memanfaatkan limbah batang pisang menjadi bahan kerajinan seperti kotak tisu. Limbah-limbah kertas koran dari perusahaan minyak yang ada di dekat desa pun disulap menjadi tas dan mewarnainya.

Hari ini merupakan hari terakhir Jambore Masyarakat Gambut 2016. Tercatat lebih dari seribu warga dari tujuh Provinsi berkumpul di Kotabaru Jambi. Mereka terdiri dari masyarakat petani gambut, masyarakat peduli api, perangkat desa, para inovator dan organisasi masyarakat sipil.

Jambore ini menjadi wadah bagi masyarakat gambut untuk saling menguatkan, bersinergi dan berjejaring secara efektif serta berbagi pengetahuan dengan aktif. Jambore ini juga menjadi wadah melakukan monitoring bersama-sama terhadap pelaksanaan Restorasi Gambut oleh masyarakat.

Jambore Masyarakat Gambut ini mewadahi beragam aktivitas. Diantaranya ada dialog kebijakan, forum aksi dan panggung inovasi rakyat, pondok belajar gambut, sudut pengetahuan, nonton bareng dan diskusi, serta pameran.


Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!