Mantan Wapres Boediono (tengah), Menkeu Sri Mulyani (Kiri) dan Mantan Menkeu Chatib Basri (kanan) bersiap menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Tantangan Pengelolaan APBN Dari Masa ke Masa di Gedung Kemenkeu, Jakarta, (30/11). (Foto: Antara)


KBR, Jakarta- Wakil Presiden periode 2009-2014 yang juga pernah menjabat sebagai menteri keuangan Boediono mengingatkan Menteri Keuangan saat ini, Sri Mulyani agar selalu mewaspadai kejutan di bidang ekonomi. Boediono mengatakan, Sri harus selalu bersiap menghadapi krisis ekonomi. Pasalnya, Boediono mengumpamakan krisis ekonomi dengan gempa bumi, yang sulit diperkirakan kapan datangnya, di mana lokasinya, serta seberapa besar kekuatannya.

"Element of surprise akan tetap ada. Artinya, kita bisa mempertajam kemampuan kita membaca bola kristal, melihat ke depan sedikit lalu mengambil langkah antisipatif. Tetapi, memang ini inheren dari proses krisis itu sendiri. Apalagi sekarang di mana globalisasi dari capital begitu merebak dan besar, kita hanya bagian kecil. Kalau ada goyangan sedikit, kita bisa berubah arah dan menjadi krisis bagi kita," kata Boediono di kantor Kementerian Keuangan, Rabu (30/11/16).

Boediono mengatakan, menteri keuangan harus selalu cermat melihat dinamika perekonomian global. Menurutnya, situasi perekonomian dunia selalu berada di tengah ketidakpastian. Kata dia, gejolak ekonomi dari suatu negara, termasuk yang tak berpengaruh dengan Indonesia, bisa turut memberikan tekanan besar. Sehingga, kata dia, ekonomi, baik fiskal maupun moneter, harus dibuat kokoh, agar tak mudah goyah oleh terpaan dari luar.

Boediono juga menyarankan Sri agar memiliki perencanaan yang kuat dalam menjalankan perekonomian negara. Menurutnya, perencanaan sebagai langkah antisipatif itu harus disiapkan tidak hanya dalam jangka pendek, tetapi juga untuk beberapa tahun ke depan. Selain itu, kata dia, sikap pemerintah dalam menyikapi ancaman krisis juga harus cermat. Alasannya, dalam situasi itu, psikologis masyarakat akan mudah hanyut hingga menimbulkan kepanikan hingga bisa memperburuk keadaan.

Utang sebagai Sumber Penyakit


Eks Menteri Keuangan Boediono menyebut utang sebagai sumber penyakit negara. Boediono mengatakan, menteri keuangan memiliki tanggung jawab menjaga defisit anggaran, yang dibiayai utang, jangan sampai terus melebar. Menurutnya, apabila tidak dikelola dengan baik, rasio utang yang besar justru akan menekan perekonomian.

"Prudent dalam arti amati terus utang Anda. Karena utang ini sumber penyakit, kalau kita lalai, hutangnya meningkat, nanti kita tiba-tiba terpojok, tidak bisa mengatasi masalah ini. Utang ini harus dijaga dengan baik. Jadi kalau monitoring rasio utang pemerintah terhadap PDB yang terus menurun itu baik. Tetapi kan utang tidak hanya dari pemerintah. Dan ini juga harus dijaga," kata Boediono di kantor Kementerian Keuangan, Rabu (30/11/16).

Boediono mengatakan, kondisi perekonomian juga harus dijaga agar selalu prudent, baik fiskal maupun moneternya. Menurutnya, perekonomian yang stabil itu akan membuat Indoensia tidak mudah goyah akibat guncangan dari luar.

Kata dia, utang sebagai penambal pembiayaan negara juga harus tetap diperhatikan. Dia menyebut, negara bisa tiba-tiba jatuh saat krisis, apabila manajemen utangnya buruk. Menurutnya, menteri keuangan harus berusaha agar rasio utang terhadap produk domestik bruto semakin jauh dari nilai yang dipatok undang-undang, yakni 3 persen. Selain utang pemerintah, menkeu juga harus memperhatikan utang swasta, karena dampaknya tak kalah buruk dengan utang pemerintah.

Sebagai langkah antisipatif, Boediono menyarankan menkeu menjalin koordinasi yang kuat bersama lembaga keuangan, meliputi Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).


Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!