Amerika Buka Dokumen Rahasia Peristiwa 65, Ini kata Pusat Sejarah TNI

Amerika Serikat mengetahui kalau segelintir Pemimpin PKI terlibat dalam Gerakan 30 September

Rabu, 18 Okt 2017 15:38 WIB

Salah satu telegram rahasia Amerika Serikat yang dibuka ke publik oleh NSA. (Sumber: NSA)

KBR, Jakarta- Sejarawan Universitas Sanata Dharma, Baskara Tulus Wardaya meyakini, dokumen rahasia Amerika Serikat tentang tragedi 1965/1966 yang baru dibuka ke publik bisa melengkapi dokumentasi sejarah Indonesia. Sebab menurutnya, selama ini masyarakat hanya mengetahui narasi versi pemerintah orde baru.

"Dokumen ini membantu kita belajar sejarah lebih terbuka, dalam arti bisa melihat dari sumber lain di luar Indonesia. Supaya pemahaman kita lebih lengkap dan kontekstual."

Baskara yang pada pertengahan 2000an meneliti sejumlah dokumen Amerika Serikat itu pun mengaku terkejut ketika menemukan beberapa nama disebut dalam dokumen yang dirilis Selasa (17/10) malam.

"Yang mengejutkan dari dokumen sekarang ini adalah, orang-orang yang dulu kita tidak tahu ada kaitannya dengan dinamika pertengahan tahun 65. Dulu kita tidak tahu atau tidak yakin, mungkin hanya rumor, tetapi sekarang kan menjadi lebih jelas," ungkap Baskara saat dihubungi KBR, Rabu (18/10).

Dalam salah satu dokumen tertanggal 23 Oktober 1965, Adnan Buyung Nasution disebut turut mendorong penghancuran Partai Komunis Indonesia (PKI). Berkas tersebut, kata Baskara, saat itu belum masuk cakupan penelitiannya.

Kendati begitu dia memperkirakan, masih banyak informasi yang belum dibuka.

"Karena salah satu aturan mereka untuk buka dokumen itu jika orang-orang yang disebut di situ (dokumen itu) sudah meninggal. Kalau orangnya masih hidup, ya tidak. Meski itu sudah batas tenggat misal 30 tahun. Tetapi kalau orangnya belum meninggal atau dirasa masih sensitif itu biasanya tidak dibuka," katanya.

Misalnya, lanjut Baskara, mengenai hubungan PKI dengan Tiongkok yang menurutnya perlu digali. Juga latar belakang Jenderal Ibrahim Adjie menolak kekerasan massal kepada orang-orang yang dituduh PKI di Jawa Barat. Sehingga di provinsi itu pembunuhan massal menurutnya relatif bisa ditekan dibanding yang terjadi di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali.

"Mestinya Telegram itu merekam, kan itu hari per hari, hampir setiap hari dan itemnya banyak."

Karenanya, Baskara berharap, dibukanya sejumlah dokumen kabel diplomatik Amerika itu bisa diikuti dengan sikap pemerintah Indonesia membuka arsip nasional seputar tragedi 1965/1966. Misalnya sejumlah dokumen yang tersimpan di Mabes TNI ataupun Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

"Harapan kita, kalau orang Amerika saja berani mengapa kita tidak? Kita bangsa yang berurusan langsung. Harapannya ini menjadi pemantik dokumen-dokumen yang ada di negara kita yang selama ini masih tertutup."

Sementara itu Tentara Nasional Indonesia mengonfirmasi masih menyimpan dokumen mengenai peristiwa 1965. Kepala Pusat Sejarah TNI, Darwin Haroen juga memastikan, dokumen itu masih tersimpan.

Kata dia,  untuk membuka dokumen itu ke publik, keputusan ada di Panglima TNI, selaku pucuk pemimpin tertinggi.

"Itu hanya Panglima. Bagi kami, selalu berlaku yang sudah berlaku itu. Setiap perubahan harus ke pucuk pimpinan," ujarnya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Rabu (10/18) siang.

Lembaga riset nonpemerintah asal Amerika Serikat, NSA membuka dokumen rahasia yang mereka miliki terkait tragedi 1965 di Indonesia. Salah satu peneliti NSA yang juga Sejarawan dari University of Connecticut, Brad Simpson mengatakan, dokumen itu mengungkap peran angkatan bersenjata bersama ormas keagamaan dalam pembantaian ratusan ribu orang yang diduga anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Embed from Getty Images

Brad menambahkan dokumen tersebut juga mencatat keterlibatan Amerika Serikat dalam memberantas PKI yang dikomandoi Soeharto. Dokumen NSA juga melaporkan dukungan Adnan Buyung Nasution dalam pembubaran PKI.

"Dokumen ini menunjukkan, lebih banyak detail tentang peran tentara dan tanggung jawabnya dalam melakukan pembunuhan itu. Dokumen ini juga menunjukkan, bahwa Amerika Serikat, mengetahui kalau PKI terlibat dalam Gerakan 30 September. Hanya segelintir pimpinan PKI yang terlibat, sedangkan sebagian besar anggota PKI tidak tahu dan tidak terlibat dalam Gerakan 30 September," kata Bradley saat diwawancara.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau