Petugas memeriksa tekanan gas di Pressure Reducing Station PT PGN di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (8/9). (Foto: Antara).



KBR, Jakarta- Presiden Jokowi Widodo menginginkan harga gas untuk industri di Indonesia berada di bawah 5 dollar Amerika Serikat per per million metric british thermal unit (MMBTU). Oleh karenanya dia menginstruksikan lembaga dan kementerian terkait untuk menyusun langkah agar target tersebut bisa tercapai dalam waktu dekat.

Presiden mengeluhkan harga gas di Indonesia saat yang saat ini sangat tinggi jika dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lainnya. Padahal menurut dia Indonesia memiliki banyak pasokan cadangan gas bumi.

"Untuk itu saya minta dilakukan langkah konkrit agar harga gas kita lebih kompetitif. Saya kemarin hitung-hitungan, ketemunya Saya kira antara 5 sampai 6 nanti kalau nggak angkanya itu ngga usah dihitung saja. Cukup di bawah itu. Lakukan penyederhanaan dan pemangkasan rantai pasok sehingga lebih efisien dan saya minta agar dijaga juga dikalkulasi ini terkait dengan iklim investasi di sektor gas bumi kita," ucapnya saat membuka rapat kabinet terbatas di Kantor Peresiden, Istana Negara, Jakarta, Selasa (04/10).

Bekas Gubernur DKI Jakarta tersebut khawatir, dengan tingginya harga gas untuk industri tersebut bisa memengaruhi dunia perindustrian di Indonesia. Padahal kata dia, di era kompetisi ini, produk-produk asal Indonesia harus bisa bersaing di dunia internasional. Oleh karenanya, penguatan di sektor tersebut merupakan harga mati.

"Oleh sebab itu hal ini perlu segera kita benahi karena implikasinya sangat besar pada kemampuan daya saing industri kita terutama industri keramik, industri tekstil, industri Petrokimia, industri pupuk, industri baja yang sangat banyak menggunakan gas. Jangan sampai produk industri kita kalah bersaing hanya karena masalah harga gas kita yang terlalu mahal," ujarnya.

Selain itu kata dia, upaya penurunan harga gas industri ini juga bisa banyak menarik investor untuk menginvestasikan modalnya di Indonesia. Dengan begitu, pembangunan, terutama infrastruktur bisa berjalan dengan baik.

"Harga gas harus tetap menarik investor untuk investasi di sektor hulu serta mendukung pembangunan infrastruktur, transmisi dan distribusi. Pertimbangkan pula aspek keberlanjutan disemua sisi, baik sisi di investazi, maupun sisi memperkuat daya saing industri kita," tambahnya.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan, penurunan harga gas untuk industri dapat mendorong pertumbuhan industri, meningkatkan penyerapan tenaga kerja, dan menghemat devisa. Penurunan harga gas untuk industri juga diyakini akan memberikan efek berganda positif bagi perekonomian nasional.

Baca: Penghitungan Belum Kelar

Sementara sektor industri mengharapkan harga gas berada pada kisaran 3 sampai 4 dollar Amrika Serikat per MMBTU. Saat ini, rata-rata harga gas untuk sektor industri sebesar 9,5 dollar Amerika Serikat per MMBTU. Selain itu, harga gas untuk industri pupuk dan industri petrokimia sebesar 6,28 sampai 16,7 dollar Amerika Serikat per MMBTU.

Padahal gas merupakan komponen utama dalam struktur biaya produksi, yang mencapai 70 persen. Adapun harga gas untuk industri tekstil, pulp, dan kertas sebesar 9,15 sampai 16,0 dollar Amerika Serikat per MMBTU.
 


Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!