Hasil Pertemuan dengan Keluarga Korban Biak Berdarah Belum Tentu Dibuka Ke Publik

Siang ini, Komnas HAM perwakilan Papua akan menerima laporan dari perwakilan tim yang ditugaskan untuk berunding dengan keluarga korban Biak Berdarah.

Senin, 10 Okt 2016 11:25 WIB

Kepala Perwakilan Komnas HAM Papua, Frits Ramandey. Foto: Antara



KBR, Jakarta- Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) perwakilan Papua belum memutuskan apakah hasil pertemuan dengan keluarga korban kasus pelanggaran HAM Biak Berdarah bakal dibuka kepada publik atau tidak.

Kepala Perwakilan Komnas HAM Papua, Frits Ramandey mengatakan, salah satu faktor yang jadi pertimbangan yaitu keamanan keluarga korban. Selain itu, kata dia, pertemuan tersebut dari awal dimaksudkan untuk dasar peraturan gubernur bagi para korban Biak Berdarah.

"Kita akan lihat dokumen itu, apakah akan dipublikasi atau tidak karena sekali lagi kepentingannya untuk kajian pergub. (Jadi belum ada keputusan?) iya karena tim akan memutuskan karena mereka melihat keluarga korban dan segala macam, karena tidak hanya di Biak. Tim juga akan melihat di beberapa tempat lain," jelas Frits Ramandey saat dihubungi KBR, Senin (10/10/2016).

Kepala Perwakilan Komnas HAM Papua, Frits Ramandey menambahkan hasil pertemuan ini nantinya juga tidak akan menjadi dasar pertimbangan jalur penyelesaian kasus Biak. Apakah itu melalui yudisial maupun nonyudisial. Kata dia, tim juga tidak perlu melaporkan hasil pertemuan kepada tim gabungan pemerintah yang bertugas menyelesaiakan kasus-kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia.

"Tim ini tidak berbicara di konteks yudisial dan nonyudisial. Ini kan ada permohonan maaf Pak Gubernur pada 2015 pada para korban di Papua. Itu yang sedang dilakukan kajian, apa yang harus dilakukan Pemprov Papua kepada korban dan keluarga korban."

Baca juga:

Siang ini, Komnas HAM perwakilan Papua akan menerima laporan dari perwakilan tim yang ditugaskan untuk berunding dengan keluarga korban Biak Berdarah.

Komnas HAM perwakilan Papua mengaku belum mengetahui poin-poin apa saja yang dihasilkan dari pertemuan tim dengan keluarga korban.

Editor: Malika

https://ssl.gstatic.com/ui/v1/icons/mail/images/cleardot.gif

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Permintaan atas produk laut Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor sangat besar tapi sayangnya belum dapat dipenuhi seluruhnya. Platform GROWPAL diharapkan dapat memberi jalan keluar.