Rupiah Terus Terpuruk, Indonesia Siap-siap Hadapi Krisi Ekonomi Global

Pemerintah memastikan akan terus memperkuat fondasi ekonomi dalam negeri. Termasuk dengan memperbaiki transaksi berjalan dan neraca perdagangan.

Senin, 03 Sep 2018 17:23 WIB

Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam rapat terbatas soal strategi memperkuat cadangan devisa di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (14/8/2018). (Foto: ANTARA/Puspa Perwitasari)

KBR, Jakarta - KBR, Jakarta - Pemerintah mewaspadai ancaman perekonomian global, termasuk dampak krisis keuangan yang kini menghantam Argentina.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan krisis global mengganggu stabilitas nilai tukar rupiah. Sejak pekan lalu, kurs rupiah terpuruk hingga ke angka 14.800 per dolar AS.

"Tentu akan kita waspadai karena dinamika dari sentimen Argentina tinggi sekali. Kadang-kadang dikombinasikan dengan kondisi yang ada di negara emerging lain. Situasi di sana belum akan selesai, jadi kita harus antisipasi," kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (3/9/2018).

Sebelumnya, rupiah juga mengalami guncangan hingga menyentuh angka 14.600 per dolar Amerika, ketika krisis ekonomi melanda Turki.

Masalah yang tengah dihadapi Argentina, menurut Sri Mulyani juga perlu diantisipasi karena tidak akan selesai dalam waktu singkat.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengklaim pemerintah akan terus memperkuat fondasi ekonomi dalam negeri, termasuk memperbaiki transaksi berjalan dan neraca perdagangan. Pemerintah juga akan segera memutuskan pembatasan impor barangg konsumsi dan meningkatkan kandungan lokal untuk menggantikan komponen impor dalam produksi.

Bekas Direktur Bank Dunia itu mengklaim sudah berkoordinasi dengan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno serta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan soal peningkatan kadungan dalam negeri untuk menggantikan komponen yang diimpor. Dalam waktu dekat, pembatasan impor untuk sejumlah barang konsumsi juga akan diputuskan.

"Kami harap situasi ini dimanfaatkan industri dalam negeri yang bisa substitusi impor. Kami nanti akan membuat keputusan setelah Bapak Presiden mengadakan rapat koordinasi yang lebih luas," tambahnya.

Selain itu, kata Mulyani, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) juga akan terus memantau perilaku pasar untuk menghindari spekulan-spekulan.

Ketua Otoritas Jasa Keuangan, Wimboh Santoso memastikan pemerintah terus berupaya menjaga kepercayaan para pelaku ekonomi. Sejauh ini dia mengklaim kondisi perbankan masih aman.

"Kondisi perbankan aman. Ini insyaallah efeknya temporary. Ini kan karena sentimen negatif," ujar Wimboh.

Hari ini sepulang dari Lombok, Presiden Joko Widodo mengumpulkan menteri-menteri urusan ekonomi untuk membahas perkembangan ekonomi terkini.

Selain Menteri Keuangan Sri Mulyani, ada juga Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Panjaitan, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, dan Gubernur BI Perry Warjiyo.

Editor: Gilang Ramadhan

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Puluhan organisasi Masyarakat sipil melalui gerakan #BersihkanIndonesia menantang kedua capres dan cawapres yang berlaga dalam Pemilu Presiden 2019 mewujudkan komitmen “Indonesia Berdaulat Energi".