Jokowi Sudah Ketemu Panglima TNI Bahas Polemik Senjata

Presiden Jokowi enggan menjelaskan isi pertemuan dengan Panglima TNI Gatot Nurmantyo di Halim Perdanakusuma.

Rabu, 27 Sep 2017 13:22 WIB

Ilustrasi senjata senapan serbu SS2 buatan Pindad untuk organik TNI. (Foto: Iwan Hermawan/Wikimedia/Creative Commons)

KBR, Jakarta- Presiden Joko Widodo telah bertemu dengan Panglima TNI Gatot Nurmantyo tadi malam di Bandara Halim Perdamakusuma, Jakarta selepas kunjungan kerja dari Bali. Jokowi mengatakan Gatot telah menjelaskan pernyataan pengadaan 5 ribu senjata ilegal oleh institusi di luar TNI.

Namun, Jokowi enggan membeberkan isi penjelasan Gatot. Ia beralasan klarifikasi yang disampaikan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto pada Minggu lalu sudah jelas.

"Tadi malam setelah dari Bali, sudah bertemu dengan saya di Halim. Sudah dijelaskan, saya kira penjelasan dari Menkopolhukam sudah jelas. Jadi saya kira tidak usah saya ulang lagi. (Jawaban dari Panglima?) Tidak bisa semua saya sampaikan," kata Jokowi di JCC Senayan, Jakarta, Rabu (27/9/2017).

Baca juga:Ada Tiga Versi soal Pengadaan Senjata untuk BIN

Beredar di media sosial pernyataan Panglima TNI Gatot Nurmantyo tentang pembelian 5 ribu senjata ilegal di luar TNI. Pernyataan ini disampaikan Gatot di depan purnawirawan militer di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur Jumat pekan lalu. Gatot mengkonfirmasi bahwa pernyataannya itu 1000 persen benar.

Merespon polemik ini, Menkopolhukam Wiranto menggelar konferensi pers Minggu lalu. Menurutnya, polemik ini terjadi dikarenakan adanya komunikasi yang tidak tuntas.

Wiranto membenarkan adanya pemesanan senjata tetapi berjumlah 500 pucuk. Pengadaan dilakukan oleh Badan Intelejen Negara (BIN) untuk keperluan sekolah intelijen. Ia juga memastikan senjata yang dipesan bukan standar militer sehingga tidak perlu meminta izin dari Mabes TNI.

Editor: Sasmito

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP

  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres
  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil

Arsul Sani: KPK Jangan Bernafsu Tangani Korupsi Swasta

  • BPBD Lebak: Gempa Hantam 9 Kecamatan
  • Jerat Hari Budiawan, Warga Tumpang Pitu Protes Putusan Hakim
  • Gunakan GBK, Persija Naikan Tiket Pertandingan Piala AFC

Padahal para pekerja di kedua jenis industri ini kerap dituntut bekerja melebihi jam kerja dan juga kreativitas yang tak terbatas.