Alasan Tito Enggan Campuri Direktur Penyidikan KPK

"Saya tidak ingin memberikan komentar mengenai permasalahan anggota Polri yang tugas di KPK. Saya menahan diri"

Selasa, 05 Sep 2017 10:48 WIB

Direktur Penyidikan KPK Aris Budiman saat hadir di rapat Pansus Angket. (Foto: Antara)

KBR, Jakarta- Kapolri Tito Karnavian menyatakan tidak ingin mencampuri permasalahan Direktur Penyidik (Dirdik) KPK Brigjen  Aris Budiman, yang tengah berseteru dengan pemimpin lembaga antirasuah tersebut. Tito mengatakan, dirinya lebih memilih menahan diri ketimbang ikut campur permasalahan yang nantinya makin memperkeruh keadaan.

"Saya tidak ingin memberikan komentar mengenai permasalahan anggota Polri yang tugas di KPK. Saya menahan diri, saya tidak ingin Polri berbenturan dengan KPK," katanya usai upacara sertijab pimpinan kepolisian daerah di Aula Rupatama, Mabes Polri, Selasa (05/08/17).

Terkait permasalahan pelaporan kepada Novel BaswedanTito juga menghargai apa yang telah dilakukan Aris Budiman. Ia menganggap selama ini Aris Budiman  adalah sosok yang jujur dan pekerja keras. Selama 29 tahun Aris menjadi Polisi,   Tito  memahami Aris sejak berada dalam tim untuk menangani kasus.

"Dia menyampaikan, saya hormat tapi kali ini hanya saya yang biaa membersihkan nama baik saya. Saya menunggu terlalu lama, ini menyangkup prinsip dan nama baik," ujar Tito meniru perkataan Aris.

"Tapi saya tahu orang ini (Aris) selama ini orang yang jujur. Karena apa, kalau dia bekerja ya bekerja. Apalagi kerja tim, dia tidak mau mengklaim itu hasil kerjanya," imbuh Tito.

Aris Budiman melaporkam Novel Baswedan terkait pencemaram nama baik, melalui surat elektronik. Kasusnya ditangani oleh Dirkrimsus Polda Metro Jaya dan sudah masuk dalam penyidikan.

Aris Budiman juga sempat membuat gaduh KPK lantaran memenuhi panggilan Pansus Hak Angket KPK di DPR. Aris datang tanpa izin sehingga kini dia tengah diproses di pengawasan internal KPK.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Puluhan organisasi Masyarakat sipil melalui gerakan #BersihkanIndonesia menantang kedua capres dan cawapres yang berlaga dalam Pemilu Presiden 2019 mewujudkan komitmen “Indonesia Berdaulat Energi".