Penuntasan Tragedi 65, Jokowi Diminta Bentuk Komite

"Sekarang tinggal disatukan. Dalam 1 sampai 2 tahun tinggal disatukan,"

Jumat, 30 Sep 2016 20:52 WIB

Ilustrasi (sumber: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}



KBR, Jakarta- Sejarahwan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)  mendorong Presiden Joko Widodo membentuk komite untuk menyelesaikan pelanggaran HAM 1965. Asvi Warman Adam  menjelaskan, hal ini untuk memecah kebuntuan yang dihadapi kasus ini. Terutama karena dokumen-dokumen hasil penyelidikan Komnas HAM dan Komnas Perempuan berhenti di Kejaksaan Agung.

Kata dia, komite independen itu nantinya bertugas menyatukan dokumen-dokumen, juga memutuskan kasus mana yang diselesaikan dengan rekonsiliasi atau proses hukum.

"Mereka sebetulnya sudah melakukan penelitian dan kajian. Mereka yang saya maksud itu berbagai organisasi, Komnas HAM, Komnas Perempuan, dan LSM lain," ujarnya kepada wartawan usai diskusi di Para Syndicate, Jakarta, Jumat (30/9/2016).

"Sekarang tinggal disatukan. Dalam 1 sampai 2 tahun tinggal disatukan," tambahnya.

Asvi menambahkan, selain dokumen Komnas, komite itu juga bisa mendapatkan masukan dari rekomendasi Simposium 1965 dan hasil IPT 1965.

Kata dia, di samping proses hukum, pemerintah harus secepatnya mengakui telah terjadi pelanggaran HAM. Kata dia hal ini lebih baik ketimbang menunggu debat rekonsiliasi yang berlarut-larut. 


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Permintaan atas produk laut Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor sangat besar tapi sayangnya belum dapat dipenuhi seluruhnya. Platform GROWPAL diharapkan dapat memberi jalan keluar.