Banjir bandang di Garut. (Foto: Antara)



KBR, Jakarta- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ( KLHK) masih meneliti penyebab banjir bandang di Garut, Jawa Barat. Menteri LHK, Siti Nurbaya Bakar, menduga penyebabnya karena tanaman vegetasi yang berada di hulu sungai sudah gundul.

Selain itu, menurut Siti, diduga ada alih fungsi lahan. Ia menjelaskan, seharusnya di lereng-lereng itu ditanami pohon, ternyata ditanam sayur-sayuran.

"Yang jelas sih karena jenis tanahnya, kalau kita ke lapangan itu lust materialnya. Rata-rata pasir ya kalau ditanamin sayur ya turun, apalagi cara tanamnya tidak benar, harusnya kontur sejajar ini malah saluran-saluran airnya justru vertikal kontur, jadi runoff-nya itu akan 100 %," kata Siti di Kantor Badan Pemeriksa Keuangan, Senin (26/09/16).

Kondisi tersebut, menurut Siti, diperparah dengan tanaman ditutup mulsa plastik. Hal itu menyebabkan air tidak terserap dengan baik. Sehingga alirannya bisa mencapai 100 persen.

"Berarti akan terjadi longsor dan banjir gede-gedean di bawah karena lereng yang seperti itu," jelas Siti.

Banjir yang melanda Garut pada Selasa (20/9/2016) lalu, selain menimbulkan korban tewas mencapai 33 orang dan puluhan masih dicari. Banjir juga meluluhlantahkan ratusan rumah milik warga. Tercatat 633 rumah terendam dan sebanyak 57 rumah hanyut.  


Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!