BNPT Rekrut Ratusan Anak Muda Jadi Agen Penangkal Radikalisme di Internet

"Anak muda ini, pemakai medsos baru, sangat rawan terkena radikalisme karena idealismenya sedang bangkit. Mereka masih mencari identitas, dan knowledge."

Selasa, 22 Agus 2017 14:35 WIB

Kepala BNPT Suhardi Alius di Purwokerto, Selasa (22/8/2017). (Foto: KBR/Muh Ridlo Susanto)

KBR, Purwokerto – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) merekrut ratusan anak muda dari berbagai kota di seluruh Indonesia untuk menjadi duta damai dan menangkal paham radikalisme lewat internet.

Kepala BNPT Suhardi Alius mengatakan para duta damai ini merupakan agen perdamaian yang bertugas menyampaikan pesan-pesan damai di media sosial atau lewat blog komunitas dan pribadi.

Saat ini agen perdamaian sudah ada di delapan kota Indonesia. Selanjutnya, kota-kota lain akan menyusul hingga menyeluruh setanah air.

"Duta damai sudah kita gelar di delapan kota. Seluruh Indonesia. Kita ambil blogger dan netizen yang punya follower banyak. Kita didik mereka. Per kota bisa sampai 60 orang, dari sekian ratus, kita padatkan. Seluruh Indonesia akan kita buat seperti itu," kata Suhardi Alius di Purwokerto, Selasa (22/8/2017).

Suhardi mengatakan, dari tiap kota, ada 60 orang yang akan direkrut dan dilatih untuk menjadi agen perdamaian, terutama di dunia maya. Mereka akan dilatih untuk menyebar pesan-pesan perdamaian lewat karya sendiri maupun karya orang lain yang bermuatan damai dan inklusif.

Baca juga:


Suhardi mensiyalir saat ini penyebaran paham radikalisme banyak menyasar anak muda. Ia mengatakan kalangan muda usia menjadi sasaran empuk dari para pendukung radikalisme, lantaran masih mencari identitas. Itu sebabnya, kata Suhardi, kelompok berpaham radikal menggunakan dunia maya untuk mempengaruhi anak muda.

"Yang akan menjadi sasaran brainwash itu anak muda. Merekalah yang akan dikedepankan untuk bisa berkomunikasi dengan bahasa-bahasa mereka. Anak muda ini, pemakai medsos baru, sangat rawan terkena radikalisme karena idealismenya sedang bangkit. Mereka masih mencari identitas, dan knowledge. Makanya knowledge ini harus dipadukan dengan moral," kata Suhardi Alius.

Menurut Suhardi, konten radikal yang banyak bertebaran juga mesti diimbangi dengan konten yang sejuk berisi pesan-pesan perdamaian.

Ia yakin, kalangan muda bisa diandalkan di dunia maya karena karakternya yang serupa sebagai pengguna internet terbesar. Dia berharap, dengan pesan damai yang dibungkus dengan bahasa anak muda, radikalisme di dunia maya bisa dilawan.

Suhardi menambahkan saat ini terjadi pergeseran model rekrutmen terorisme di Indonesia. Dia menyebut, jaringan teroris menggunakan media sosial untuk menanamkan paham-paham radikal kepada pengguna internet Indonesia.

Hal itu, kata Suhardi, bisa dilihat dari makin maraknya konten radikal yang bertebaran di internet, termasuk melalui blog atau website. BNPT kini memiliki tim yang khusus mengawasi pergerakaan radikal di dunia maya.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Demi Kesetaraan, Kemenhub Berkeras Batasi Tarif Taksi Online

  • Kasus Hakim Praperadilan Setnov Segera Masuk Sidang Panel KY
  • Kasus Pribumi, Polri Masih Kaji Laporan terhadap Anies Baswedan
  • Pernikahan Usia Anak di NTB Masih Tinggi