Baku-Tembak di Nduga, 200an Warga Kampung Alguru Mengungsi

"Kampung Alguru itu sudah otomatis rusak, sudah dibombardir. Sudah rusak betul itu."

Jumat, 13 Jul 2018 14:41 WIB

Ilustrasi: Peta Kabupaten Nduga, Papua.

KBR, Jakarta - Juru Bicara Lembaga Masyarakat Adat Nduga, Papua, John Beon mengatakan ratusan warga Kampung Alguru belum pulang ke rumah pascapenyerangan aparat bersenjata pada Rabu (11/7/2018). Sebab menurut John, tempat tinggal warga hancur dirusak aparat gabungan TNI-Polri.

"Kampung Alguru itu sudah otomatis rusak, sudah dibombardir. Sudah rusak betul itu. Kita belum dapat laporan lengkap ada korban berapa. Ini dibombardir, dibom," kata John kepada KBR, Kamis (12/7/2018) malam.

Masyarakat Kampung Alguru, menurut John, mengungsi di kampung terdekat lainnya. Sebelum mengungsi, lebih dari 200 orang sempat berlarian ke arah hutan karena serangan aparat bersenjata melalui helikopter ke arah tempat tinggal mereka.

Menurut John, TNI-Polri menyerang Kampung Alguru dengan rentetan tembakan berkali-kali. Tembakan-tembakan tersebut dilakukan di lima posisi berbeda.

Setelah penembakan, aparat bersenjata turun dan menyisir rumah-rumah warga. Tujuannya, kata John, untuk mencari Tentara Pembebasan Nasional-Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM) yang sebelumnya menguasai daerah tersebut.

"Kini 300an aparat menguasai kampung itu."

John menduga, penyerangan aparat itu buntut dari aksi TPN-OPM pada 21 dan 25 Juni lalu. Pada 21 Juni, tentara OPM menembak pesawat sipil yang datang dari Timika dan mendarat di Kenyam. Kala itu, mereka sebenarnya mengincar pesawat Brimob pengangkut logistik Pilkada, tapi salah informasi.

Baca juga:

Sementara 25 Juni 2018, TPN-OPM menembak pesawat Brimob pengangkut logistik Pilkada. Akibat penembakan itu, Pilkada di Nduga mundur satu hari. Aparat bersenjata pun lantas menyisir Kampung Alguru untuk memburu kelompok TPN-OPM yang diduga menguasai kawasan itu.

Adanya penyerangan itu juga diungkapkan oleh Bupati Nduga, Yairus Gwijangge. Namun ia menyebut aparat Kepolisian dan TNI tak berkoordinasi dengan Pemkab saat melakukan penyerangan melalui jalur udara ketika memburu TPN-OPM. Akibatnya, kata dia, lbih dari 200 warganya panik dan ketakutan.

Yairus khawatir kejadian itu membikin warga di sana trauma dan mengakibatkan mereka berlarian untuk sembunyi ke hutan. Menurutnya, hingga kini pun sebagian warga ada yang masih mengungsi.

"Kami ada di Nduga. Tapi belum pernah diinformasikan bahwa akan ada penembakan dari atas. Mereka diam-diam menjalani. Tiga kali lakukan penembakan. Penembakannya boom boom boom, tiga kali, dengan posisi beda," kata Yairus kepada KBR, Kamis (12/7/2018).

Karena itu, ia menyatakan akan melayangkan surat protes ke petinggi aparat keamanan. Ini dilakukan agar aparat bersenjata tidak lagi melakukan penambakan melalui jalur udara.

Selain itu, Yairus meminta agar aparat berkoordinasi dengan pihak pemerintah dan tidak sewenang-wenang melakukan serangan. Ia membenarkan bahwa di Kabupaten Nduga terdapat sekitar 20 kelompok sipil bersenjata dari berbagai daerah. Namun bukan berarti aparat bisa leluasa menyerang, padahal terdapat pula warga yang bermukim di kampung-kampung tersebut.

Baca juga:

Berbeda versi, kepolisian mengklaim tidak ada penyerangan udara di Kampung Alguru, Kabupaten Nduga pada Rabu (11/7/2018). Juru bicara Polda Papua AM Kamal menyebut, informasi soal penyerangan udara yang beredar di media sosial adalah bohong.

Menurutnya, justru pihak polisi yang ditembaki kelompok bersenjata saat akan mendistribusikan makanan kepada satu SSK anggotanya yang ada di beberapa titik. Akibatnya, baku tembak pun tak terelakkan. Helikopter polisi akhirnya kembali ke lapangan udara di Kenyam, dan membatalkan pendistribusian makanan.

"Keberadaan heli yang ada disana, heli polisi untuk mengirim bama (bahan makanan) beberapa pos di Nduga dan heli itu bukan heli tempur dan heli untuk mengevakuasi, drop makanan di Nduga. Jadi tidak ada yang diboomingkan oleh kelompok-kelompok lain disana yang katanya terjadi bombardier ada empat heli dan sebagainya," kata Kamal saat menyempaikan keterangan pers di Papua, Kamis (12/7/2018).

"Bahkan setelah terjadi penembakan, ada terjadi pembakaran dan faktanya apa. Permasalahan ini adalah provokasi yang ada di Nduga," tambahnya lagi.

Ia juga menyebut, foto-foto yang beredar di media sosial justru bersumber dari kebakaran hutan yang terjadi di Kalimantan beberapa tahun lalu. Namun, sengaja dikaitkan dengan isu penyerangan aparat ke Nduga.

Kamal pun memastikan kehadiran polisi di Nduga atas perintah Negara dan sebagai penegak hukum. Apalagi belum lama ini serentetan aksi kekerasan terjadi di Nduga. Aksi itu menimbulkan korban tidak hanya dari aparat, namun juga warga sipil. Polisi hingga kini terus memburu pelaku.

Baca juga:

Kata dia, Kampung Alguru di Kabupaten Nduga menjadi tempat berkumpul tiga hingga empat kelompok sipil bersenjata. Menurutnya, hasil pengintaian polisi di kampung itu mendapati anggota kelompok bersenjata tersebut berbaur dengan warga lain. Namun menurutnya, dalam beberapa kali pantauan polisi melihat orang yang lalu-lalang membawa senjata api.

Itu sebab menurut Kamal, polisi mengerahkan 1 SSK atau seratus polisi untuk menangkap pelaku penembakan pesawat Demonim Air dan Trigana Air. Tapi ia menyangkal telah melakukan penyerbuan menggunakan helikopter. 

"Terjadi kontak tembak lagi terhadap rekan-rekan kami di sana dan sampai hari ini (Kamis, 12/7/2018) kami pastikan akan melakukan penangkapan kepada pimpinan Elkinus, lalu Parponius dan ada 3-4 kelompok di sana dan kami tetap memastikan melakukan penangkapan terhadap pelaku," tutur Kamal.

Sebelumnya, serangkaian penembakan terjadi di Kabupaten Nduga, Papua. Penembakan dilakukan terhadap dua maskapai penerbangan yakni Demonim Air dan Trigana Air, juga pedagang di sekitar Lapangan Udara Kenyam. Akibatnya menurut polisi, tiga warga sipil tewas dan seorang anak usia 6 tahun mengalami luka pada wajah.

Baca juga:




Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sedang melaksanakan Program Penguatan Reformasi Kepabeanan dan Cukai (PRKC). Program ini sudah dimulai sejak Desember 2016 hingga saat ini.