Rencana Pemindahan Ibu Kota RI, Kepala Bappenas: Nanti Ada Kabarnya

Pekan lalu, Bambang Brodjonegoro mengatakan pemindahan ibu kota RI dari Jakarta ke luar Jawa masih dalam kajian. Ia sempat mengatakan pemindahan ibu kota membutuhkan biaya lebih dari Rp1 triliun.

Selasa, 16 Jan 2018 14:06 WIB

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro di Istana Negara, Rabu (3/1/2018). (Foto: ANTARA/Puspa Perwitasari)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro masih belum terbuka dengan hasil kajian lembaganya terkait wacana pemindahan ibu kota negara Indonesia dari Jakarta ke luar pulau Jawa.

Bambang Brodjonegoro mengatakan ia akan menyampaikan ke publik setelah kajian selesai.

"Itu isu aja," kata Bambang sambil tertawa, ketika ditemui usai menghadiri acara Festival Iklim 2018 di Gedung Manggala Wanabhakti, Jakarta Pusat, Selasa (16/1/2018).

"Pokoknya nanti ada kabarnya, nanti ada kabarnya," jawab Bambang ketika di desak wartawan.

Pekan lalu, Bambang Brodjonegoro mengatakan pemindahan ibu kota RI dari Jakarta ke luar Pulau Jawa masih dalam kajian. Bambang sempat mengatakan pemindahan ibu kota membutuhkan biaya lebih dari Rp1 triliun.

Besarnya kebutuhan untuk pemindahan ibu kota RI itu, kata Bambang, membuat pemerintah membuka peluang bagi pihak swasta untuk ikut terlibat pembiayaan. Sehingga pembiayaan tidak hanya mengandalkan anggaran negara. 

Meski mengatakan rencana pemindahan masih dalam kajian, Bambang mengatakan sudah menyerahkan kajian itu ke Presiden Joko Widodo.

"Kita dalam diskusi dengan pengusaha, kita juga sedang mempersiapkan kajian secara lengkap. Lewat diskusi dengan pengusaha itu kita akan lihat sejauh mana minat mereka jika dilibatkan dalam kerja sama tersebut," kata Bambang, Kamis (4/1/2018).

Baca juga:

Kajian pemindahan ibu kota RI juga dilakukan pihak kepolisian melalui Kepala Korps Lalu lintas, Royke Lumowa. Melalui telegram tertanggal 4 Desember 2017, Kapolri Tito Karnavian menugaskan Royke untuk menjadi bagian dalam pengkajian rencana besar pemerintah memindahkan ibu kota negara ke luar Jawa.

Royke mengatakan kajian yang dilakukan meliputi kesiapan infrastruktur jalan raya, kontur tanah, tata letak pembuatan lalu lintas dan lain-lain. Terutama faktor-faktor yang harus dipenuhi untuk mewujudkan lalu lintas yang lancar dan aman.

"Lebih bagus siap payung sebelum hujan. Ini kajian menuju smart city, jadi kota yang ramah terhadap lalu lintas yang lancar dan berkeselamatan," kata Royke pada 12 Desember 2017 lalu.

Calon ibu kota nanti menurut rencana bakal didesain menjadi smart city pertama di Indonesia.

Sejumlah wilayah masuk daftar lokasi kajian calon ibu kota negara antara lain Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan hingga Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Nama Palangka Raya pernah dimunculkan Presiden Soekarno pada 1957, sebagai calon ibu kota Indonesia yang baru pada 1957.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas
  • MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi
  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP

Alasan Panitia MocoSik Festival 2018 Larang Penjualan Buku Komunis

  • Kembangkan Aplikasi Street View, Google Diminta Jaga Hak Privasi Warga
  • Kembangkan Google Street View, Warga yang Keberatan Bisa Mengadu
  • DPRD Banyumas Bakal Panggil Pelbagai Pihak terkait Kasus Pemukulan Guru ke Siswa

Diabetes kerap menjadi masalah yang mengkhawatirkan di Indonesia. Penyakit yang satu ini berkaitan erat dengan pola gaya hidup sehat, mulai dari makanan hingga aktivitas fisik.