Malaysia Larang Kapal Kayu Masuk Tawau, Pemerintah Diminta Pasok Sembako ke Perbatasan

Pedagang Perbatasan Minta Pemerintah Maksimalkan Pengiriman Barang ke Wilayah Perbatasan.

Selasa, 23 Jan 2018 12:03 WIB

Kapal kayu pengangkut sembako di Dermaga Sungai Bolong Nunukan. Sejak akhir 2017 pemerintah Malaysia melarang masuknya kapal kayu ke Pelabuhan Tawau Malaysia. (Foto: KBR/Adhima S.)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Nunukan– Pedagang lintas batas   di  perbatasan Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara meminta pemerintah memaksimalkan pengiriman sembako dari Surabaya dan Makassar. Permintaan itu dilakukan  pasca larangan masuknya kapal kayu pengangkut sembako ke Pelabuhan Tawau oleh Pemerintah Malaysia.

Ketua Asosisi Pedagang Lintas Batas Kabupaten Nunukan Andi Mutamir mengatakan, larangan  sejak akhir 2017 itu menyulitkan memenuhi permintaan sembako warga perbatasan. Mereka terpaksa menggunakan jalur perdagangan tradisional dengan menggunakan perahu kecil untuk mengambil sembako dari Tawau Malaysia.

“Ini  kebijakan dari Malaysia kan, seluruh kapal pengangkut barang yang mengunakan kapal kayu itu sudah dilarang. Kalau saya lihat sekarang ini pengambilan barang  itu lewat Sebatik, lewat tradisional itu. (Imbasnya ada kenaikan harga?)  Sudah jela,s karena biaya ongkosnya lebih besar kalau kita lewat Sebatik,” ujar Ketua Asosisi Pedagang Lintas Batas Kabupaten Nunukan Andi Mutamir Selasa
(23/01/2018).

Andi Mutamir menambahkan, masih tingginya ketergantungan warga perbatasan Kabupaten Nunukan terhadap sembako dari negara Malaysia seharusnya disikapi oleh pemerintah pusat dengan meloby  untuk memberi perpanjangan waktu kepada kapal kayu untuk pengangkut sembako. Pemerintah pusat menurutnya juga harus memaksimalkan pengiriman sembako dari Surabaya maupun Makassar agar ketergantungan warga perbatasan terhadap sembako Malaysia bisa diminimalisir.

“Hubungan luar negeri urusannya kan sebenarnya Kementerian Luar Negeri. Kalau kita di daerah ini sudah pernah mengusulkan kepada pemerintah daerah untuk bagaimana supaya ada komunikasilah, kerjasama yang baik agar kapal kayu itu masih diperbolehkan. Tapi hasil dari Sosekmalindo (forum kerjasama Sosial Ekonomi Malaysia Indonesia) kemarin sampai  Desember   saja diberikan kelonggaran,” keluhnya.

Selain kedekatan wilayah, murahnya harga sembako dari Negara Bagian Sabah Malaysia dibandingkan sembako dari Surabaya  membuat ketergantungan warga Kabupaten Nunukan  akan sembako dari Malaysia masih tinggi. Meski demikian sebagian pedagang di Kabupaten Nunukan sudah mulai memanfaatkan tol laut untuk mendatangkan barang barang dan sembako yang harganya  bisa bersaing dengan sembako dari negara jiran.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Wiranto Batalkan Wacana Pj Gubernur dari Polisi

  • PPATK: Politik Uang Rawan sejak Kampanye hingga Pengesahan Suara
  • Hampir 30 Ribu Warga Kabupaten Bandung Mengungsi Akibat Banjir
  • Persiapan Pemilu, Polisi Malaysia Dilarang Cuti 3 Bulan Ini

Pada 2018 Yayasan Pantau memberikan penghargaan ini kepada Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, untuk keberaniannya mengarahkan liputan tentang demokrasi dan toleransi.