Beban Kerja Anda Berlebih? Waspadai Gangguan Jiwa

“Ada salah satu jurnalis di Bandung yang mengalami depresi dan ingin bunuh diri,"

Sabtu, 27 Jan 2018 10:00 WIB

Ilustrasi (sumber: Antara)

ARTIKEL TERKAIT

KBR, Jakarta- Pernah mendengar kata Karoshi? Ini istilah untuk fenomena   kematian yang diakibatkan oleh bekerja melampaui batas. Jumlah kematian akibat kerja berlebihan ini tidak sedikit. Kementerian Perburuhan Jepang mencatat kerja lembur berlebih mengakibatkan 96 pekerja tewas karena sakit dan 93 kasus bunuh diri dan percobaan bunuh diri karena gangguan mental.

Data itu menunjukkan  kelebihan beban kerja tak hanya berdampak pada stres, depresi, namun bisa berujung pada kematian. Hal ini juga terjadi di Indonesia. Penelitian Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif atau Sindikasi menemukan beberapa pekerjaan memiliki faktor resiko kesehatan psikologis yang cukup tinggi,  misal wartawan.

“Ada salah satu jurnalis di Bandung yang mengalami depresi dan ingin bunuh diri, karena sering meliput hal-hal yang berkaitan dengan pembunuhan dan bencana, atau peristiwa traumatis lainnya. Seringnya meliput hal-hal traumatis tadi, ternyata berpengaruh pada psikologisnya. Nah, karena tak ditanggulangi dengan baik, maka secara klinis ia mengalami gangguan jiwa,” jelas Iksan Rahardjo, Sekjen Indikasi, kepada duo host Aika Renata dan Reski Messanto di KBR Pagi, Jumat (26/01/2017).  

Bahkan, tambah Ikhsan, Organisasi Perburuhan International ILO juga mengakui bahwa gangguan kesehatan jiwa sebagai bagian tak terpisahkan dari penyakit akibat kerja.

Sayangnya, tak seperti kesehatan fisik, menurut Koordinator Divisi Advokasi SINDIKASI Nura Nur'aini kesehatan mental merupakan isu yang belum banyak mendapat perhatian dari perusahaan seperti indutri media dan industri kreatif. Padahal para pekerja di kedua jenis industri ini seringkali dituntut bekerja melebihi jam kerja dan juga kreativitas yang tak terbatas. Sebut saja kasus kematian Mita Diran, seorang Copywriter pada Desember 2013 lalu. Mita diduga kelelahan akibat bekerja sepanjang 30 jam nonstop tanpa tidur.

“Ada pekerja media yang mengalami beban kerja berlebih, hingga depresi, tapi tak diakui oleh perusahaannya. Kasus ini tak hanya dialami oleh industri media, tapi juga industri kreatif. Ada yang ingin resign, tapi pihak perusahaan ancam akan menahan gajinya,” ujarnya.

Selain permasalahan beban kerja, Sindikasi juga menyoroti hak normatif untuk pekerja perempuan yang belum terpenuhi, misalnya adanya ruang laktasi (menyusui atau memompa susu) untuk perempuan yang mempunya batita, agar membuat para ibu nyaman ketika berada di dalamnya.

“Selama ini ruang laktasi dianggap beban bagi perusahaan, karena membutuhkan anggaran dan membutuhkan ruang khusus, alhasil pembuatannya terkesan asal-asalan. Ada yang membuatnya di sisi pinggiran gudang, di mushola,” ujar Iksan.

Itu sebab, Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif (Sindikasi) dalam rangka bulan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), akan mengadakan festival bertema "Kesehatan Mental Pekerja Media dan Kreatif” dengan   mulai Sabtu, 27 hingga 28 Januari 2018 di Gedung Joeang 45, Cikini, Jakpus.

Di Festival ini, Ikhsan dan rekan-rekannya ingin memberitahukan kepada publik dan pemerintah bahwa bekerja   juga perlu atau membutuhkan keseimbangan antara perkerjaan dan kehidupan pribadi. Mereka juga akan mengajukan desain ruang laktasi yang layak. 

Goals dari festival ini, kami akan membuat rekomendasi economy digital, karena  dengan kemajuan teknologi, banyak orang yang tak lagi bekerja, tapi juga menimbulkan pekerjaan baru untuk sebagian besar orang misalnya pengemudi transportasi online. Dan mengenai K3, kesehatan dan keselamatan kerja, kami harapkan pemerintah mengakui kesehatan jiwa sebagai penyakit akibat kerja. Karena, faktanya di lapangan yang dihadapi pekerja bukan hanya penyakit fisik saja, tapi juga kesehatan jiwa,” paparnya.

Menurut Psikolog, Aully Grashinta, dampak dari kerja berlebihan adalah emosi (lebih mudah marah, tertekan) sampai pada kondisi depresi atau lebih jauh lagi mengalami gangguan mental. Kalau dari sisi fisik, seseorang akan mengalami bisa kelelahan dan mudah sakit kepala.

Output hasil kerja adalah hasil dari jiwa karyawan, jika jiwanya tertekan, bagaimana mungkin bisa kreatif, harusnya ada pola hubungan industri berbeda dengan industri yang lain,” ujarnya.
 
Ia menyarankan, agar seseorang mencari pekerjaan yang sesuai dengan minat, kemampuan dan kepribadian. Hal itu, biasanya sudah terlihat sejak SMP.

Editor: Rony Sitanggang

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas
  • MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi
  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial

Dokter RS Premier: Setnov Pernah Minta Dirawat Dokter Terawan

  • APK Pasangan Khofifa-Emil Dibakar Orang Tidak Dikenal di Situbondo
  • AL Libya Selamatkan 263 Imigran di Lepas Pantai Barat
  • Final Piala FA, Antonio Conte Sebut Chelsea bukan Favorit Juara

Setiap individu itu unik, mereka memiliki kesukaan masing-masing, termasuk dalam bekerja. Kebanyakan orang ingin bekerja di bidang yang sesuai dengan passion dan motivasi mereka masing-masing.