Australia Keluarkan 'Travel Warning' ke Indonesia

Kementerian Luar Negeri Australia memperingatkan ancaman teror kemungkinan juga menyasar kegiatan perayaan Natal dan Tahun Baru yang diikuti warga asing di Indonesia.

Jumat, 23 Des 2016 13:36 WIB

Wisatawan mancanegara berfoto di kawasan Monumen Bom Bali di Badung, Bali, Kamis (22/12/2016). (Foto: ANTARA)

KBR - Kementerian Luar Negeri Australia mengeluarkan travel warning atau peringatan bepergian di atau ke Indonesia, terkait ancaman terorisme menjelang hari raya Natal dan Tahun Baru.

Melalui situs Smartraveler, Kemenlu Australia menyebut travel warning ke Indonesia berada di level kuning atau waspada tingkat tinggi. Bahkan untuk wilayah Sulawesi Tengah, Papua dan Papua Barat, levelnya di tingkat oranye yang artinya meminta warga mempertimbangkan ulang rencana perjalanan mereka ke wilayah itu.

Peringatan bepergian itu dikeluarkan pemerintah Australia beberapa hari setelah Kepolisian Indonesia menyergap dan menangkap belasan orang tersangka teroris. Tiga orang terduga teroris tewas saat melawan ketika hendak ditangkap polisi.

Kementerian Luar Negeri Australia memperingatkan ancaman teror kemungkinan juga menyasar kegiatan perayaan Natal dan Tahun Baru yang diikuti warga asing di Indonesia.

Australia meminta warganya yang berada di Bali untuk waspada tinggi, termasuk yang berada di Bali.

"Otoritas Indonesia terus melakukan penangkapan teroris yang diduga tengah merencanakan serangan. Tingkat ancaman terorisme di Indonesia masih tinggi," begitu tulis Kemenlu Australia di situs Smartraveller.

"Serangan teroris bisa menyasar ke mana saja dan kapan saja di Indonesia, termasuk Bali. Termasuk aksi main hakim sendiri selama Natal dan Tahun Baru 2017 dan Imlek 28 Januari 2017."

Baca juga:


"Kami menyarankan Anda mempertimbangkan ulang jika akan bepergian ke Sulawesi Tengah, Papua dan Papua Barat terkait resiko keamanan di sana. Sejak Juli 2009 terjadi sejumlah kekerasan dan penyerangan di sekitar tambang PT Freeport di Papua. Sejumlah orang tewas termasuk seorang warga Australia," tulis Smartraveller.

Australia juga meminta warganya di Indonesia menghindari lokasi-lokasi protes, demonstrasi, hingga konvoi yang bisa memicu kekerasan secara tiba-tiba.

Mabes Polri terus melakukan penangkapan orang-orang yang diduga terlibat jaringan terorisme. Sejak November lalu sudah ada 14 orang tersangka yang ditangkap, termasuk dua orang pria dan satu perempuan yang berencana melakukan aksi bom bunuh diri di Istana Negara awal Desember lalu. Kelompok ini berhasil membuat bom dengan daya ledak lebih besar dari Bom Bali I pada 2002 yang menewaskan 202 orang.

Penangkapan dilakukan di sejumlah tempat seperti Majalengka dan Bekasi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur hingga Kepulauan Riau dan Sumatera Utara. Mereka diyakini merupakan kelompok jaringan Bahrun Naim, orang Indonesia yang bergabung dengan ISIS. (Smartraveller/NTNews) 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

Kuasa Hukum Tak Bisa Janjikan Setnov Hadir di Sidang Tipikor Besok

  • Kakorlantas: Tim Pengkaji Pemindahan Ibu Kota Negara Masih Bekerja
  • Disnaker Sulut: Perusahaan Jangan Lupa Bayar THR
  • Lakukan Percobaan Penyuapan, Ketua DPRD Halteng Ditahan