Monumen Arch of Triumph di Palmyra, Suriah. (Foto: Frederik Questier & Yanna Van Wesemael/Creative Commons CC-BY-SA 20)

KBR - Kelompok teroris ISIS meledakkan Arch of Triumph, sebuah monumen utama berusia 2000 tahun peninggalan Romawi di kota Palmyra, Suriah.

Ini merupakan tindakan lanjutan ISIS menghancurkan situs-situs kuno dalam beberapa bulan terakhir. Sebelumnya, ISIS juga menghancurkan dua kuil kuno yang berada di negara itu.

Mengutip Reuters, Kepala Badan Purbakala Suriah Maamoun Abdulkarim mengatakan sumber di Palmyra sudah mengkonfirmasi hancurnya situs purbakala itu karena ulah milisi ISIS.

Monumen Arch of triumph di Palmyra, Suriah merupakan salah satu peninggalan sejarah yang sudah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Setelah kawasan Palmyra dikuasai ISIS pada Mei lalu, kelompok teroris itu menghancurkan benda-benda purbakala seperti monumen dan bangunan-bangunan bersejarah. ISIS menganggap bangunan-bangunan bersejarah itu ada kaitannya dengan keagamaan non-Islam.

Padahal, Maamoun mengatakan bangunan itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan keagamaan tertentu.

"Ini benar-benar penghancuran yang brutal... Tindakan mereka (ISIS) tidak lagi didasarkan pada ideologi, karena sekarang mereka menghancurkan bangunan yang tidak ada makna keagamaannya sama sekali," kata Maamoun Abdulkarim.

Sebelumnya, pada Agustus lalu, kelompok ISIS meledakan Kuil Baal Shamin dan Candi Bel, yang merupakan salah satu situs peninggalan terbaik dari era Romawi. Pemerintah Suriah juga mengkonfirmasi militan ISIS telah menghancurkan sejumlah bangunan makam kuno.

Badan PBB untuk Kebudayaan UNESCO menyebut perbuatan ISIS itu sebagai kejahatan perang. UNESCO menyebut ISIS sedang berusaha menghapus seluruh bukti-bukti kekayaan warisan budaya dunia di Suriah. (Reuters/BBC)

Editor: Agus Luqman

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!