Kurang Olahraga, 1.4 Miliar Orang Berisiko Terkena Berbagai Penyakit

World Health Organization (WHO) memperkirakan lebih dari 1,4 miliar orang di dunia berisiko terkena penyakit jantung, diabetes tipe-2, dan beberapa jenis kanker.

Rabu, 05 Sep 2018 15:33 WIB

Ilustrasi (Foto: Reference.com)

KBR, Jakarta - Sebuah laporan World Health Organization (WHO) memperkirakan lebih dari 1,4 miliar orang di dunia berisiko terkena penyakit jantung, diabetes tipe-2, dan beberapa jenis kanker.  Hal ini disebabkan karena kurangnya kegiatan olahraga fisik. Dilansir dari bbc.com (5/9/2018), peneliti tidak menemukan adanya peningkatan tingkat aktivitas fisik sejak tahun 2001.

Studi ini melacak tingkat aktivitas 1,9 juta orang di 168 negara di seluruh dunia selama 2016. 

Para peneliti di WHO menemukan kalau negara-negara yang berpenghasilan tinggi, termasuk Inggris dan Amerika Serikat, proporsi orang yang tidak aktif telah meningkat dari 32% pada tahun 2001 menjadi 37% pada tahun 2016. Sementara, di negara-negara berpenghasilan rendah, tetap stabil pada 16%.

Menurut Dr Regina Guthold, penulis utama studi dari WHO, orang-orang di negara berpenghasilan tinggi menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan, jam kerja yang lebih panjang, makanan tinggi kalori, dan tingkat olahraga yang rendah. Sementara di negara-negara berpenghasilan rendah, orang lebih mungkin aktif dalam pekerjaan mereka, seperti  berjalan atau menggunakan transportasi umum.

Melody Ding dari University of Sydney  mengatakan, beberapa negara lebih aktif dibandingkan yang lain karena pengaruh faktor biologis, psikososial, kelembagaan, budaya dan lingkungan.

"Aktivitas fisik telah direkayasa dari kehidupan, pekerjaan berbasis meja menggantikan pekerjaan tenaga kerja,  mobil menggantikan perjalanan aktif," kata Ding kepada AFP.

Ding menambahkan, pemerintah dapat berbuat lebih banyak untuk membantu orang menjadi lebih aktif, seperti meningkatkan transportasi umum dan fasilitas yang mempermudah aktivitas berjalan dan bersepeda.

WHO merekomendasikan setiap orang dewasa melakukan setidaknya 150 menit  dalam seminggu olahraga dengan intensitas sedang, seperti jalan cepat, berenang , dan bersepeda.  Atau 75 menit dalam seminggu olahraga dengan intensitas tinggi, seperti lari.

Perempuan cenderung kurang aktif dibandingkan laki-laki. Hal itu berlaku di seluruh dunia kecuali di Asia Timur dan Asia Tenggara.

"Perempuan sering diharapkan berada di rumah, mengurus anak-anak, mengelola rumah tangga dan terkadang tidak selalu punya waktu untuk berolahraga," kata Guthold.

Tahun 2025 mendatang, WHO menargetkan adanya penurunan tanda-tanda ketidakaktifan sebesar 10%, namun ini dikhawatirkan tidak tercapai. 

Para ahli meminta pemerintah untuk menyediakan infrastruktur yang mendukung olahraga dan meningkatkan aktivitas berjalan kaki dan bersepeda untuk transportasi. 

Editor: Citra Dyah Prastuti 

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Puluhan organisasi Masyarakat sipil melalui gerakan #BersihkanIndonesia menantang kedua capres dan cawapres yang berlaga dalam Pemilu Presiden 2019 mewujudkan komitmen “Indonesia Berdaulat Energi".