Salah satu atraksi paus pembunuh atau orca dalam Shamu Show SeaWorld. (Foto: Jeff K/Flickr/Creative Commons)

KBR - Negara bagian California di Amerika Serikat menjadi wilayah pertama yang memberlakukan larangan mengembangbiakkan maupun memelihara paus pembunuh atau orca (Orcinus orca) serta penggunaan mamalia laut itu dalam atraksi hiburan.

Paus pembunuh atau orca merupakan spesies terbesar dari keluarga lumba-lumba. Meski masuk keluarga lumba-lumba, ia disebut sebagai paus karena ukurannya yang sangat besar.

Gubernur California Jerry Brown menandatangani peraturan atau undang-undang itu pada pekan ini. Undang-undang itu akan mulai efektif berlaku sejak 2017. Penetapan undang-undang itu mengakhiri kontroversi dan prokontra penggunaan hewan paus pembunuh untuk hiburan manusia.

Berdasarkan undang-undang baru itu, paus pembunuh atau orca tetap diperbolehkan di dalam kurungan. Namun, hewan-hewan itu hanya boleh digunakan untuk tujuan 'presentasi pendidikan'.

Wahana hiburan SeaWorld, yang memiliki orca di taman mereka di San Diego, menyatakan mereka tidak dalam posisi mengomentari undang-undang itu. Namun, pihak SeaWorld menyatakan sudah mengakhiri program pengembangbiakan orca sejak Maret lalu.

Sebelumnya, Sea World memiliki acara "Shamu Show" yang menampilkan atraksi paus pembunuh.

Industri taman satwa hingga kebun binatang kerap perdebatan mengenai etika memelihara dan mengembangbiakkan satwa-satwa liar dalam kandang. Para aktivis peduli satwa terus menyuarakan protes atas perlakuan komersialisasi satwa liar dan penggunaan satwa-satwa itu untuk atraksi hiburan.

LSM pembela hak satwa People for the Ethical Treatment of Animals (PETA) juga terus menyuarakan desakan melarang pembibitan orca dan pertunjukan orca yang dilakukan SeaWorld.

Perusahaan SeaWorld berada dalam tekanan terkait bagaimana mereka memperlakukan hewan orca atau paus pembunuh, sejak CNN menyiarkan film dokumenter berjudul "Blackfish" pada 2013.

Film "Blackfish" menceritakan kisah tentang Tilikum, orca banteng berbobot hampir enam ton yang kerap tampil dalam atraksi di SeaWorld Orlando, Florida. Tilikum menewaskan seorang pelatih satwa SeaWorld bernama Dawn Brancheau pada 2010. Orca ini sebelumnya juga diduga menyebabkan tewasnya dua orang lain.

Film tersebut juga menggambarkan bagaimana upaya menangkap orca di laut lepas dan memeliharanya di kandang yang gelap dan sempit. Pasca keluarnya film itu, jumlah penonton atraksi orca menurun drastis dan saham SeaWorld sebagai operator taman laut terbesar dunia juga anjlok.

Kritik juga meningkat ketika tiga mamalia laut, yaitu paus orca, paus beluga dan lumba-lumba sisi putih mati di SeaWorld San Antonio hanya dalam kurun waktu empat bulan pada akhir 2015 hingga awal 2016.

Undang-undang ini membolehkan perawatan paus pembunuh untuk tujuan rehabilitasi atau tujuan penelitian. Namun, siapapun dilarang memelihara, mempertunjukkan atau menggunakannya untuk kegiatan hiburan. Undang-undang itu juga mendesak ada rehabilitasi dan pelepasan paus pembunuh ke alam liar.

"Ada banyak cara untuk mempelajari hewan-hewan itu, daripada melihatnya sekilas di dalam kandang," kata Marc Bekoff, seorang profesor ekologi dari Universitas Colorado, yang juga peneliti dari Animal Behavior Society.

"Generasi orca mendatang tidak akan bisa bertahan menghadapi keterbatasan, stres dan frustasi karena dijebak di tangki berdinding beton yang sempit yang menahan mereka," kata Wakil Presiden LSM satwa (PETA) Tracy Reiman.

Pasca keluarnya undang-undang di California itu, SeaWorld berencana mengganti atraksinya untuk kegiatan pendidikan. SeaWorld San Diego juga berencana mempertahankan 11 paus mereka dalam perawatan.

Hingga saat ini grup SeaWorld di Amerika Serikat (San Diego, Orlando dan San Antonio) memiliki total 29 paus pembunuh. Termasuk di dalamnya sembilan ekor orca yang dipinjamkan ke Spanyol. Lima diantaranya ditangkap di laut, dan sebagian besar dikembangbiakkan.

Pada Mei lalu, kebun binatang "Cincinnati Zoo and Botanical Gardens" secara kontroversi terpaksa menembak gorilla berbobot 140 kilogram setelah seorang bocah jatuh ke kandang satwa itu. (CNN/CS Monitor/Reuters) 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!