Salah satu bangunan di kampus Universitas Oxford, Inggris. (Foto: Pablo Fernández/Flickr/Creative Commons)

KBR - Universitas Oxford di Kota Oxford, Inggris meraih posisi sebagai universitas nomor satu terbaik di dunia tahun 2016-2017.

Ini merupakan kali pertama kampus di Inggris meraih posisi bergengsi dalam perankingan yang dilakukan majalah mingguan Times Higher Education (THE) yang berbasis di London. Hasil pemeringkatan 2016-2017 diterbitkan majalah itu pada pekan ini.

THE merupakan majalah terkemuka di Inggris di bidang pendidikan. Majalah ini terkenal dengan terbitan rutin tahunan mengenai pemeringkatan perguruan tinggi di dunia.

Majalah THE memeringkatkan sekitar 980 universitas top dunia, termasuk dua universitas dari Indonesia, Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Indonesia (UI).

Jumlah itu pun baru mewakili 5 persen dari institusi perguruan tinggi di dunia. Pemeringkatan dilakukan pada sistem pengajaran, hasil riset (volume, pendapatan dan reputasi), jumlah rujukan akademik, jangkauan global dan transfer pengetahuan ke dunia industri.

Tahun ini, Universitas Oxford menggeser Institut Teknologi California (Caltech) yang sebelumnya menjadi jawara lima kali. Caltech kini berada di peringkat kedua.

Dari 25 peringkat teratas kampus terbaik dunia, Amerika Serikat mendominasi dengan 17 kampus. Inggris menempatkan lima universitas, Swiss satu universitas, Kanada satu universitas, dan Singapura satu universitas. Daftar lengkap di sini .

Sementara dua perguruan tinggi Indonesia, diwakili Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Indonesia (UI) berada di peringkat 800-an ke atas-an.

Selain Universitas Oxford di posisi pertama, Inggris menempatkan kampus lain di jajaran perguruan tinggi top dunia, yaitu Universitas Cambridge (peringkat 4), Imperial College London (8), Universitas College London (15) dan London School of Economics and Political Science (25).

Amerika Serikat masih menjadi negara dengan jejeran kampus terbaik dunia, mulai dari California Institute of Technologi (peringkat 2), Stanford University (3), Massachussets Institute of Technology (5), Harvard University (6), Princeton University (7), University of California, Berkeley dan University of Chicago (peringkat 10), Yale University (12), University of Pennsylvania (13), Universy of California, Los Angeles (14), Columbia University (16), John Hopkins University (17), Duke University (18), Cornell University (19), Northwestern University (20), University of Michigan (21) dan Carnegie Mellon University (23).

Swiss diwakili ETH Zurich Swiss Federal Institute of Technologi Zurich (peringkat 9). Sedangkan University of Toronto Kanada berada di peringkat 22, dan Singapura menempatkan satu wakil di 25 besar kampus terbaik dunia melalui National University of Singapore (24).

Sementara itu, Tiongkok meningkatkan investasi di bidang pendidikan tinggi dengan menghabiskan milyaran dolar per tahun untuk kampus-kampus terbaik di negara itu.

Dua kampus di Tiongkok, yaitu Peking University kini berada di peringkat 29 terbaik dunia, disusul Tsinghua University (peringkat 35). Itu tidak lepas dari pemasukan riset yang diterima dua kampus itu.

Peking University menjadi negara terbesar penerima dana riset pada 2014, sebesar lebih dari 1,1 miliar dolar AS. Nilai dana risetnya lebih besar dari Stanford University dan Oxford University. Sedangkan dana riset Tsinghua University juga lebih besar dari yang diterima Universitas Cambridge maupun California Institute of Technology.

"Dulu, Tiongkok punya jumlah kampus yang banyak tapi rendah kualitas. Tapi kini kita bisa melihat itu sudah berubah. Kampus-kampus top di Tiongkok mulai bergerak global. Tsinghua dan Peking menjalin kerjasama dan inisiatif dengan universitas lain. Mereka juga mengenalkan gaya pembelajaran ala Amerika," kata Phil Baty, editor majalah Times Higher Education.

Di Asia Tenggara, Singapura masih masuk kategori terbaik. Selain National University of Singapore (peringkat 24), ada juga Nanyang Technological University yang menempati posisi 54.

Sejumlah universitas top di Malaysia menempati posisi 600-800 seperti Universiti Kebangsaan Malaysia, Universiti Putra Malaysia, Universiti Sains Malaysia dan Universiti Teknologi Malaysia.

Perguruan tinggi di Thailand juga termasuk bergengsi dengan adanya Mahidol University (menempati peringkat 501-600). Kampus lain di negara itu, Chiang Mai University, Chulalongkorn University hingga University of Technology Thonburi dan Suranaree University of Technologi menempati peringkat 601-800. Beberapa kampus di Thailand juga menempati peringkat 801 ke atas.

Terancam Brexit

Namun keputusan Inggris untuk keluar dari Uni Eropa (Brexit) bisa jadi bakal mengancam kampus-kampus di Inggris dari daftar universitas terbaik dunia.

Survei dari majalah Times Higher Education dilakukan sebelum jajak pendapat Brexit dilakukan.

"Inggris harus memastikan untuk mengurangi dampak (Brexit) di dunia pendidikan, mahasiswa, kampus-kampus dan ilmu pengetahuan---saat bernegosiasi dengan Uni Eropa," tulis Phil Baty, editor majalah Times Higher Education.

Financial Times memberitakan Universitas Oxford menerima 12 persen dari pendanaan risetnya dari Dewan Riset Uni Eropa. Dana yang diterima pada tahun lalu mencapai Rp981 miliar.

Perwakilan Universitas Oxford, Prof Louise Richardson khawatir posisi mereka di jajaran kampus top dunia terancam jika Uni Eropa menghentikan bantuan riset ke kampusnya.

"Padahal riset itulah yang membuat kami mendapatkan posisi ini," kata Richardson.

Secara global, sebanyak 91 kampus yang berada di Inggris berada di jajaran kampus top dunia. Inggris menjadi negara penerima dana riset perguruan tinggi terbesar dari Uni Eropa, mencapai 1,2 miliar pounds (Rp20 triliun) per tahun.

Inggris merupakan negara tujuan pendidikan terbesar kedua---setelah Amerika Serikat---bagi warga asing. (Financial Times/BBC/Times Higher Education.com) 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!