Foto: Antara/Social media via Reuters TV

KBR-  Twitter telah memblokir 235.000 akun bermuatan terorisme dan kekerasan dalam enam bulan terakhir. “Sejak tahun lalu, jumlah akun yang diblokir meningkat lebih dari 80% setiap hari, lonjakan pemblokiran terjadi sesaat setelah terjadi serangan teroris,” tulis Twitter dalam sebuah pernyaan yang dimuat dalam blog resmi perusahaan media sosial itu.

Langkah ini dilakukan Twitter bekerjasama dengan True Islam, organisasi anti-terorisme yang bekerja mengidentifikasi konten bermuatan terorisme dan kekerasan. 

Salaam Bhatti, juru bicara True Islam, menyebut pemblokiran yang dilakukan Twitter sebagai langkah yang tepat, “Twitter menjadi salah satu media rekrutmen bagi organisasi teroris. Seperti yang kita pahami, kelompok ekstrimis sudah kelihangan keuatan dalam hal teritorial sehingga mereka beralih menyasar media sosial untuk merekrut anak muda,” katanya.

Tak hanya memblokir, Twitter mengklaim sudah membuat kemajuan guna mencegah para pemilik akun tersebut untuk kembali menggunakan akun mereka. “Kami telah menambah juga pengawas yang meninjau laporan, lengkap dengan sarana dan kemampuan bahasanya. Kami juga berkolaborasi dengan pelantar sosial lainnya, berbagi informasi dan metode terbaik dalam mengidentifikasi konten terorisme,” tulis Twitter dalam pernyataannya.

Sosial media yang memiliki 313 juta pengguna aktif ini sudah lama berupaya mengontrol akun yang bertautan dengan terorime, terutama dengan peningkatan jumlah pengguna dari kelompok teroris seperti ISIS. ISIS diketahui aktif menggunakan Twitter sebagai media rekrutmen anggota dan propaganda. 

Sebelumnya, hakim federal di San Francisco, AS, membatalkan tuntutan yang menuduh Twitter mendukung ISIS. Keluarga dua orang tewas akibat serangan Yordania mengajukan gugatan itu, twitter bertanggung jawab lantaran mengizinkan kelompok teroris membikin akun pada pelantar miliknya.

Februari lalu, twitter juga mengumumkan telah memblokir lebih dari 125 ribu akun sejak pertengahan 2015 karena telah melanggar aturan penggunaan Twitter yang melarang promosi tindak kekerasan dan terorisme. BBC/The Guardian.

Editor: Malika 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!