Feyisa Lilesa, pelari maraton asal Ethiopia. (Foto: Denis Barthel/Wikimedia/CC-BY-SA 4.0)

KBR - Pelari maraton asal Ethiopia Feyisa Lilesa gagal pulang ke negaranya dari Rio de Janeiro Brazil, meski ia sudah mempersembahkan medali perak dari ajang Olimpiade.

Status keimigrasian Feyisa tidak jelas dan ia tidak diikutkan dalam rombongan penerbangan pulang kontingen Ethiopia, pada Senin malam lalu.

Para pejabat kementerian olahraga Ethiopia memberi selamat kepada seluruh anggota tim dan para atlet Olimpiade yang sudah menyumbangkan delapan medali. Namun, mereka tidak menyebut sama sekali kesuksesan Feyisa meraih medali perak. Para pejabat Ethiopia juga menolak menjawab pertanyaan mengenai Feyisa.

Feyisa Lilesa, pria berusia 26 tahun itu meraih medali perak di nomor lari maraton. Saat melintas garis finis, ia menyilangkan dua lengannya di atas kepala membentuk huruf X.

Gerakan dua tangan membentuk huruf X di atas kepala merupakan simbol protes dan perlawanan politik rakyat Ethiopia terhadap rezim pemerintahan negara itu yang represif di bawah pemerintahan Presiden Mutatu Teshome. Foto Feyisa dengan tangan tersilang di atas kepala tersebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Ethiopia.

Saat diwawancara usai melakukan aksi protes itu, Feyisa mengatakan ia takut kembali ke negaranya. Jika ia pulang, ia khawatir akan mendapat hukuman. Padahal istri dan dua anaknya masih berada di Ethiopia.

"Jika pulang ke Ethiopia, mungkin mereka akan membunuh saya," kata Lilesa dalam konferensi pers.

Agen Lilesa, Federico Rosa sebelumnya mengatakan pelarinya kemungkinan tidak kembali ke negaranya setelah membuat gerakan protes itu. Meskipun, kata Rosa, pemerintah Ethiopia menjamin tidak akan menghadapi masalah apapun jika kembali pulang.

"Rasanya tidak mungkin Feyisa akan kembali ke Ethiopia," kata Rosa seperti dikutip AFP. "Ada banyak orang mengatakan kondisinya tidak bagus bagi dia jika pulang."

"Dia tidak ingin pulang, dia ingin ke negara lain. Amerika mungkin pilihan yang sesuai, tapi saat ini kami tidak tahu kemana dia akan pergi. Dia sebetulnya sangat gembira bisa meraih medali, tapi juga kebingungan," kata Rosa.

Belum diketahui apa yang akan dilakukan Feyisa selanjutnya. Namun dikabarkan ia akan mencari suaka politik ke Amerika Serikat.

Beberapa analis olahraga menyarankan Feyisa memilih negara Bahrain atau Qatar. Negara-negara di kawasan Teluk saat ini banyak menerima atlet-atlet kelahiran Afrika dengan janji bayaran yang besar jika memenangkan kompetisi internasional.

Nasib yang dialami Feyisa Lilesa mendapat simpati dari banyak orang, termasuk para diaspora asal Ethiopia. Meski tidak diminta, kelompok diaspora Ethiopia di California Amerika menggalang dukungan dana melalui kampanye crowdfunding di GoFundMe. Hingga Senin lalu mereka mengumpulkan 100 ribu dolar AS (Rp1,3 miliar). Dana itu rencananya sebagian diserahkan ke Feyisa, dan sebagian lain untuk menyewa pengacara guna mengurus visa bagi Feyisa agar bisa meninggalkan Brazil.

Gestur yang ditampilkan Feyisa Lilesa di ajang Olimpiade kerap terlihat di Ethiopia dalam gelombang aksi protes rakyat beberapa bulan terakhir, khususnya di kota Oromia---daerah asal Feyisa.

Lembaga Human Right Watch (HRW) memperkirakan lebih dari 10 ribu orang dipenjara di rezim pemerintah Ethiopia. Dan sejak aksi protes terjadi November lalu, sedikitnya 500 orang tewas.

Aksi protes mengemuka sejak November lalu, atas rencana pemerintah memperluas garis batas ibukota Addis Ababa hingga melintas ke wilayah provinsi Oromia atau Oromo. Addis Ababa merupakan wilayah yang ada di tengah Oromia.

Sekitar 35 persen populasi Ethiopia merupakan etnis Oromia. Namun sebagian besar kekuatan politik dan keamanan dikendalikan oleh kelompok etnis Tigrayan. Pada masa lalu perluasan kota Addis Ababa kerap menimbulkan bentrokan. Warga etnis Oromia kerap menjadi sasaran tekanan politik dan aksi kekerasan, termasuk penyiksaan dan perkosaan.

Rencana perluasan wilayah Addis Ababa akhirnya dibatalkan karena besarnya tekanan internasional. Namun aksi protes di Ethiopia terus berlangsung dan bertambah dengan tuntutan reformasi politik dan dihentikannya kekerasan aparat.

Sementara itu Komite Olimpiade mulai menyelidiki aksi protes Feyisa, yang melarang aksi politik dalam kegiatan olahraga. (AFP/Guardian/New York Times/Huffington Post)
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!