Enam Pelaku Penembakan Sekolah di Pakistan Divonis Mati

Ini adalah vonis pertama yang dijatuhkan pengadilan Pakistan atas insiden penembakan oleh Taliban Desember lalu.

Jumat, 14 Agus 2015 11:56 WIB

KBR - Pengadilan militer Pakistan memvonis mati enam orang yang dianggap terlibat aksi penembakan di sekolah Peshawar. Peristiwa penembakan itu menewaskan 134 siswa. Ini adalah vonis pertama yang dijatuhkan pengadilan Pakistan atas insiden penembakan oleh Taliban Desember lalu.

Parlemen Pakistan awal tahun ini setuju ada pengadilan militer untuk para anggota militan. Pengadilan menyebut enam orang itu itu terbukti bersalah dan sudah mengaku aksi penembakan tersebut.

Sebelumnya, parlemen Pakistan bersikeras keenam orang itu harus diadili di pengadilan militer karena mahkamah sipil tidak berani berurusan dengan kelompok teroris. Pekan lalu Mahkamah Tinggi Pakistan memberikan pernyataan bahwa pengadilan militer yang tertutup legal dan boleh menjatuhkan hukuman mati bagi warga sipil. Keputusan ini dikritik karena dikhawatirkan membuat militer kian sewenang-wenang. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas

  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres
  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil

Kepala KSP Moeldoko Tepis Anggapan Miring

  • Izin Impor Beras Dialihkan, PT PPI Tak Keberatan
  • BNPB Siapkan Anggaran Rp 166 Miliar untuk Perbaiki Rumah Korban Banjir Bima
  • PS TNI Gagal Menang Melawan 10 Pemain Persebaya

Memberdayakan masyarakat bisa dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya seperti apa yang dilakukan anak-anak muda asal Yogyakarta ini melalu platform digital yang mereka namai IWAK.