Guru Pedofil di Kamboja Divonis 5 Tahun Penjara

George Mousallie terbukti melakukan kekerasan seksual terhadap enam orang anak-anak berusia antara 3 hingga 13 tahun.

Kamis, 11 Jun 2015 19:10 WIB

Ilustrasi kekerasan seksual. Foto: Antara

KBR - Pengadilan Kamboja memvonis seorang guru asal Australia dengan hukuman lima tahun penjara. George Mousallie, guru bahasa Inggris terbukti melakukan kekerasan seksual terhadap enam orang anak-anak berusia antara tiga hingga 13 tahun. Dalam amar putusannya, hakim Kor Vandy mengatakan George terbukti bersalah atas dakwaan melakukan hubungan seks dengan anak-anak dan melakukan perbuatan cabul. Selain itu, pengadilan memerintahkan agar George segera diekstradisi dari Kamboja setelah dia menjalankan hukumannya.

Hakim juga menjatuhkan denda sekitar Rp. 33 miliar lebih sebagai kompensasi terhadap dua orang korbannya. Pemerintah Kamboja meluncurkan program anti-paedofil demi menghapus citra buruk Kamboja yang dianggap sebagai sarang para paedofil. Sejak program ini diluncurkan, puluhan warga asing ditangkap , dipenjarakan atau dideportasi untuk diadili di negara asal mereka dengan tuduhan melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak. 

Editor: Dimas Rizky

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas

  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres
  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil

Kepala KSP Moeldoko Tepis Anggapan Miring

  • Izin Impor Beras Dialihkan, PT PPI Tak Keberatan
  • BNPB Siapkan Anggaran Rp 166 Miliar untuk Perbaiki Rumah Korban Banjir Bima
  • PS TNI Gagal Menang Melawan 10 Pemain Persebaya

Memberdayakan masyarakat bisa dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya seperti apa yang dilakukan anak-anak muda asal Yogyakarta ini melalu platform digital yang mereka namai IWAK.