Tiongkok Blokir Akses Nelayan di Laut Cina Selatan

Tiongkok mengklaim hampir seluruh kawasan Laut Cina Selatan. Kawasan itu diyakini menyimpan minyak dan gas dalam jumlah besar.

Rabu, 02 Mar 2016 14:05 WIB

Sebuah foto satelit dirilis oleh Asian Maritime Transparency Initiative di Center for Strategic and

Sebuah foto satelit dirilis oleh Asian Maritime Transparency Initiative di Center for Strategic and International Studies (CSIS) Washington menunjukkan pembangunan kemungkinan fasilitas menara radar d

KBR - Pemerintah Tiongkok menyiagakan lima kapal patroli di sekitar kawasan pulau terumbu karang atau atol yang disengketakan di Laut Cina Selatan. Kapal-kapal itu memblokade akses nelayan Filipina yang biasanya berlayar mencari ikan di kawasan itu.

Langkah Tiongkok itu memancing perhatian media di Filipina. Harian The Philippine Star menyebutkan Tiongkok mulai mengerahkan kapal ke kawasan terumbu karang yang disebut Quirino Atoll atau Jackson Atoll, setelah ada kapal nelayan yang mencari ikan di kawasan itu. 

Walikota Kalayan di Kepulauan Spratly, Eugenio Bito-ono Jr mengatakan kapal-kapal Tiongkok itu sudah berlabuh di pulau koral tak berpenghuni itu selama lebih dari sepekan. 

Militer Filipina juga mengaku sudah menerima laporan mengenai kehadiran kapal-kapal Tiongkok di wilayah itu. 

"Namun kami masih memverifikasi laporan-laporan itu," kata juru bicara militer Filipina Brigjen Restituto Padilla kepada Reuters. 

"Kami tahu ada kapal-kapal Cina yang beroperasi di sekitar Kepulauan Spratly. Ada juga kapal-kapal mereka di sekitar Rumpun Atol Thomas Kedua---di Kepulauan Spratley. Jadi kami ingin memastikan dulu kalau-kalau keberadaan mereka ini akan permanen," kata Restituto.

Rumpun Atol Thomas Kedua dikuasai militer Filipina pada 1999. Pada 2011 lalu, kapal perang Cina dituduh menembak nelayan Filipina di dekat kepulauan karang yang dipersengketakan itu. 

Tiongkok mengklaim hampir seluruh kawasan Laut Cina Selatan. Kawasan itu diyakini menyimpan minyak dan gas dalam jumlah besar. 

Negara lain juga mengajukan klaim atas perairan di Laut Cina Selatan seprti Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan dan Vietnam. Selain kandungan sumber daya alam, perairan Laut Cina Selatan juga merupakan jalur strategis angkutan logistik. Diperkirakan kawasan ini dilewati jalur perdagangan senilai 5 triliun dolar Amerika per tahun. (Reuters/The Guardian) 

Editor: Citra Dyah Prastuti 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau