Ilustrasi. Dua warga Turki mengibarkan bendera Amerika Serikat Turki pada 2009. (Foto: Quin.Anya/Wikimedia/Creative Commons)

KBR - Presiden Turki Tayip Recep Erdogan berkomunikasi langsung dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui sambungan telepon. Ini merupakan komunikasi telepon pertama sejak Trump dilantik Presiden pada Januari lalu.

Sumber di kantor Kepresidenan Turki, seperti diberitakan Reuters, menyebutkan dua presiden itu sepakat bekerjasama untuk memerangi kelompok ISIS. Erdogan dan Trump juga sepakat merebut kembali Kota Al-Bab dan Raqqa yang hingga kini masih dikuasai ISIS.

Dua kepala negara itu berdiskusi mengenai perang melawan teror, penanganan pengungs dan zona aman di Suriah. Turki juga meminta agar Amerika Serikat tidak mendukung milisi YPG dari Suriah Kurdi.

Baca: Operasi Besar-besaran, Turki Tangkap Kembali Ratusan Orang terkait ISIS, Mayoritas WNA   

Sebelumnya, sumber di Turki memberitakan Direktur CIA Mike Pompeo mengunjungi Turki untuk membahas mengenai kelompok milisi YPG dan upaya memerangi jaringan Fetullah Gulen. Turki menyebut Fetullah Gulen mendalangi upaya kudeta gagal pada Juli lalu.

Keterangan dari Gedung Putih di Washington menyebutkan dua kepala negara itu berdiskusi mengenai komitmen bersama melawan terorisme dalam berbagai bentuk.

"Trump mengulangi lagi dukungan Amerika ke Turki sebagai mitra strategis dan sekutu di NATO, dan menyambut hangat kontribusi Turki melawan ISIS," begitu keterangan dari Gedung Putih.

Dalam komunikasi telepon itu, Erdogan juga memberi selamat atas terpilihnya Trump sebagai presiden Amerika Serikat. Erdogan juga mengundang Trump ke Turki.

Kantor Kepresidenan Turki menyebut hubungan dua negara terjalin dengan baik sebagai teman dan sekutu.

Pemerintah Turki sebelumnya memuji keputusan Trump mengangkat Michael Flynn sebagai penasihat keamanan nasional Amerika. Hal itu terkait tulisan Flynn di sebuah artikel yang dipublikasikan pada hari pemungutan suara, yang menyebut Fethullah Gulen sebagai sosok radikal.

Turki mengatakan seharusnya Amerika Serikat tidak memberi perlindungan kepada Gulen yang dituding Turki sebagai dalang dibalik kudeta gagal tahun lalu. Turki minta agar Amerika Serikat mengekstradisi Gulen secepatnya ke Turki.

Dalam berbagai kesempatan, Gulen sudah membantah terlibat dalam upaya kudeta di Turki pada Juli 2016 lalu. (Anadolu/Reuters/Chicago Tribune/CNN) 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!