Sudah 12 Kali, Militer Thailand Janjikan Tak Ada Lagi Kudeta di Thailand

"Saya memastikan tidak akan ada lagi kudeta. Apa alasannya melakukan kudeta?" kata JenderalChalermchai Sitthisat.

Senin, 02 Jan 2017 18:11 WIB

Tentara Thailand saat militer melakukan kudeta terhadap pemerintahan Perdana Menteri Yingluck Shinawatra, Mei 2014. (Foto: Takeaway/Wikimedia/Creative Commons)

KBR - Thailand telah diguncang krisis politik dan terjadi kudeta pemerintahan sebanyak 12 kali sejak 1932 atau dalam 80 tahun terakhir. Sebagian diantaranya mendapat dukungan dari militer.

Kudeta terakhir terjadi 2014 lalu ketika Jenderal Prayut Chan-O-cha menggulingkan Perdana Menteri sementara Thailand Niwatthamrong Boonsongpaisan pada 22 Mei 2014.

Kondisi itu membuat militer memiliki rekam jejak terlibat dalam penggulingan pemerintahan yang sah. Karena itu, petinggi militer di Thailand saat ini merasa perlu menyerukan sikap mereka untuk tidak lagi mendukung kudeta.

Panglima tentara Thailand Jenderal Chalermchai Sitthisat memberikan pernyataan yang kemudian diterbitkan meda-media di Thailand pada Senin (2/1/2016). Ia memastikan kudeta militer sudah menjadi masa lalu.

"Saya memastikan tidak akan ada lagi kudeta. Apa alasannya melakukan kudeta? Tidak akan ada kudeta. Kami sudah belajar dari apa yang terjadi sebelumnya (di masa lalu)," kata Jenderal Chalermchai.

Pemimpin militer Thailand itu juga memastikan untuk menggelar pemilu segera setelah konstitusi baru disetujui.

Pernyataan Jenderal Chalermchai Sitthisat itu mendapat reaksi bermacam-macam dari publik di Thailand. Melalui media sosial, sebagian warga percaya, namun sebagian tidak mempercayainya.

"Jika tentara sudah bicara seperti itu, artinya mereka akan melakukan hal yang sebaliknya," kata warga Thailand Eakapong Leesinla di akun Facebooknya.

"Mengapa (wartawan) bertanya seperti itu? Kita semua sudah tahu bagaimana dia akan menjawab. Siapa yang mau menjawab 'ya' (akan ada kudeta)?' komentar Pim Pongchandr lewat Facebook.

Chalermchai merupakan bekas komandan pasukan khusus Thailand. Ia ditunjuk sebagai panglima militer Thailand yang baru oleh Perdana Menteri Prayut Chan-O-Cha pada September 2016. Prayut merupakan pemimpin kudeta pemerintahan Thailand pada 2014, yang menggulingkan pemerintahan Yingluck Shinawatra. Beberapa hari sebelum kudeta militer tahun 2014, Jenderal Prayut menyatakan tidak akan ada kudeta terhadap pemerintah yang sah.

Meski begitu, Jenderal Prayut akhirnya menggulingkan kekuasaan Perdana Menteri Yingluck SHinawatra, saudara dari Thaksin Shinawatra. Prayut mengatakan ia terpaksa mengambil alih kekuasaan yang sudah diwarnai korupsi politik dan untuk membuat stabilitas politik yang buruk selama bertahun-tahun antara pendukung Shinawatra dan lawan politiknya.

Pernyataan Jenderal Chalermchai itu keluar setelah sebelumnya kalangan anggota parlemen Thailand mempertanyakan keseriusan pemerintah untuk menggelar pemilu pada tahun ini.

Sebagaimana dikutip Reuters, Somjet Boonthanom, anggota legislatif yang ditunjuk militer menyebutkan kemungkinan pemlu baru akan digelar Maret atau April 2018.

"Ini bukan penundaan, tetapi karena terkait rumitnya penyusunan undang-undang pemilu, jadi pemilu tidak akan digelar tahun ini," kata Boonthanom.

Meski begitu kalangan pemerintah menyatakan pemilu tetap akan diusahakan digelar tahun ini. (AFP/SCMP/Reuters) 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

KKP Gagal Capai Target Ekspor Ikan

  • HRW Usulkan 4 Isu Jadi Prioritas Dialog Jakarta Papua
  • Terduga TBC di Medan Capai Seribu Orang
  • Dalai Lama Luncurkan Aplikasi

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi