Ilustrasi Phobia/takut. (foto steveseay.com)

Setiap orang, bisa saja punya ketakutan pada sesuatu hal. Takut hantu, takut disuntik, takut gemuk, takut gelap, takut kehilangan pekerjaan, atau orang terdekat. Punya rasa takut itu biasa. Namun menjadi tak biasa jika rasa takut itu berlebihan.

Mungkin Anda tidak asing lagi mendengar kata Phobia yang identik dengan rasa takut yang berlebihan pada sesuatu yang menurut orang normal tidak masuk akal. Ketakutan berlebihan dapat menghambat hidup pengidapnya. Karena jika rasa takut itu terjadi secara terus menerus, akan terjebak dalam kondisi mental yang terkunci.

Menurut Psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan (LPT) UI, Sri Juwita Kusumawardhani, M.Psi, jika mengalami kecemasan berlebihan terhadap sesuatu yang tidak realistis, baik pada objek atau situasi tertentu, akan menimbulkan efek fisik dan psikologis. Keadaan yang tidak realistis itu, misalnya takut sendirian di dalam rumah, hingga berteriak dan menangis, terutama jika usianya 18 tahun ke atas. Gangguan ini bisa membahayakan orang lain dan dirinya sendiri.

“Kalau phobianya sudah di tahap yang merasakan deg degan, keringat dingin, jantung berdetak lebih cepat, itu sudah parah,“ ujarnya saat berbincang bersama KBR pada Program Klinik KBR, Selasa (15/12/2015).

Ia menambahkan, anak kecil dibawah 18 tahun, bisa juga mengalami phobia, namun meski diukur atau dilihat dalam 6 bulan dulu. Karena anak kecil belum terpapar banyak hal, jadi rasa takutnya itu bisa jadi karena kaget atau ketidaktahuannya. Nah, jika selama kurun waktu itu ia terus menerus takut terhadap sesuatu, baru bisa dikategorikan sebagai phobia.

Ia menjelaskan, penyebab phobia bisa karena karena traumatis yang dialami diri sendiri atau melihat rangsangan dari luar atau yang dialami orang lain. Misal, pernah mengalami terkunci dalam lift, jadi takut untuk masuk lift. Atau pernah melihat orang lain yang jatuh dari ketinggian, hingga membuat seseorang  jadi takut dengan ketinggian. Jika orang tua punya ketakutan tertentu yang berlebihan, bisa juga menurunkan kepada anaknya.

Jenis phobia, ada dua. Spesifik Phobia dan Komplex Phobia.

Spesifik Phobia bisa dikategorikan takut pada hewan, lingkungan, alam, ketinggian, takut melihat darah, situasi dalam pesawat atau lift, takut muntah, takut tercekik dan sebagainya.

Sedangkan Komplek Phobia lebih berat lagi, yaitu rasa takut dan cemas ketika berada disuatu  situasi yang memalukan atau tak bisa keluar dalam acara yang ramai, hingga membuat tak nyaman. Sementara, jika menemui orang yang pemalu yang berlebihan,  dan tak bisa berbicara di depan umum karena tak biasa, maka ini disebut Sosial Phobia.

“Phobia  banyak dialami oleh wanita daripada laki-laki, 2:1. Salahsatunya karena orang tua yang sering membatasi kegaiatan anak perempuan, jadi anak tak terlalu banyak mengekplor sesuatu,” katanya.

Proses penyembuhan Phobia tergantung juga dengan tingkat keparahan. Misal, jika sering diejek saat kecil, maka akan susah bersosialisasi karena takut melakukan kesalahan lagi. Hal ini membuat seseorang jadi susah bergaul atau sulit menjalin hubungan dengan lawan jenis yang membuatnya susah menikah. Ketika sudah menikah, menurut Sri, Phobianya sedikit berkurang karena sudah mulai bisa bersosialisasi dengan pasangannya. Tapi, jika pasangannya meninggal, phobianya bisa kambuh lagi.

Salah satu  cara yang  bisa dilakukan untuk menyembuhkan phobia adalah dengan relaksasi pernafasan dan belajar mengatur nafas lewat perut. Jika ketakutannya sudah mengganggu sekali, seperti takut sama kucing atau tak mau naik pesawat, bisa diberi obat penenang dengan resep dokter, dan bantuan psikolog.

“Kalau mau melawan phobia dengan menghantam objek yang ditakuti, jika berhasil ya itu bagus, tapi tak semua orang bisa seperti itu, harus step by step dan didampingi. Yang bisa melihat  bisa atau tidak seorang phobia menghantam objek, hanya psikolog,” ujarnya.

Untuk level Phobia yang biasa-biasa saja bisa dilakukan dengan memberikan sugesti  positif atau  menantang diri sendiri. Jika seseorang tidak terlalu takut dengan suatu objek, tapi menghindari suatu barang, bisa dikatakan dia sudah bisa menguasai dirinya.

“Phobia susah untuk dihindari. Jika sudah merasakan ketakutan terhadap sesuatu, lebih baik mengatasi dari awal daripada sudah parah. Dan jangan suka melabeli diri sendiri kalau terkena phobia, karena belum tentu itu adalah phobia.” pungkasnya.   
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!